banner 728x250

Tiga Anak Madrasah, Tiga Daerah, Satu Merah Putih

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA — Pagi 17 Agustus kelak, ketika Merah Putih perlahan naik di halaman Istana Merdeka, tiga nama dari dunia madrasah akan ikut menorehkan kisahnya. Mereka datang dari tiga daerah berbeda—Riau, Banten, dan Sumatera Selatan—namun dipertemukan oleh satu amanah: menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat pusat 2026.

Mereka adalah Rizqy Aditya Siregar dari MAN Insan Cendekia Siak, Riau; Adzra Khairy Fadian dari MAN 1 Kota Serang, Banten; serta Khalyana Zahira Sandi dari MAN 1 Lubuklinggau, Sumatera Selatan.

banner 325x300

Bagi ketiganya, Paskibraka bukan sekadar seragam, barisan, atau ketepatan langkah. Di balik prosesi yang berlangsung singkat itu terdapat perjalanan panjang: seleksi, latihan, kedisiplinan, ketahanan fisik, kematangan mental, hingga keberanian memikul nama daerah dan madrasah di panggung kebangsaan.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut keberhasilan tersebut sebagai kebanggaan bagi Kementerian Agama. Menurut dia, capaian ketiganya sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan madrasah tidak berhenti pada penguasaan ilmu keagamaan.

“Ini membuktikan bahwa anak-anak madrasah tidak hanya unggul dalam ilmu keagamaan, tetapi juga memiliki kedisiplinan, fisik yang tangguh, serta nasionalisme tinggi untuk mengabdi kepada bangsa dan negara,” ujar Nasaruddin di Jakarta, Minggu (16/8/2026).

Ia berpesan agar amanah tersebut tidak berhenti pada kebanggaan sesaat. Menjadi Paskibraka, menurut Nasaruddin, semestinya menjadi ruang untuk menempa kepemimpinan, integritas, tanggung jawab, dan kerendahan hati.

Mengibarkan Sang Saka Merah Putih di Istana Merdeka, lanjut dia, bukan semata-mata prosesi fisik. Di dalamnya terdapat simbol dedikasi dan kejujuran dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Nasaruddin berharap nilai-nilai yang diperoleh di madrasah, termasuk semangat moderasi beragama, dapat menjadi bekal ketiga siswa untuk tumbuh sebagai teladan bagi generasi muda.

“Saya optimistis generasi muda madrasah siap menjadi pilar utama dalam membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih maju, berdaya saing, dan berakhlak mulia,” katanya.

Apresiasi serupa disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Amien Suyitno. Menurut dia, keberhasilan tersebut mencerminkan proses pembinaan karakter, kebangsaan, dan kepemimpinan yang berlangsung di lingkungan madrasah.

Di balik keberhasilan itu, terdapat pelan orang tua, pembina, dan kepala madrasah yang ikut mengawal perjalanan para siswa.

“Semoga keberhasilan ini memicu semangat seluruh madrasah di Indonesia untuk terus mencetak generasi yang kompetitif, berkarakter, dan berjiwa merah putih,” ujar Amien.

Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin melihat pengalaman menjadi Paskibraka sebagai bagian penting dari proses pendidikan karakter.

Menjadi Paskibraka, kata dia, bukan hanya tentang mengibarkan Merah Putih. Ada disiplin, kepemimpinan, tanggung jawab, dan kecintaan kepada Indonesia yang ditempa melalui proses panjang.

Dari Siak Menembus Istana

Bagi Rizqy Aditya Siregar, keberhasilan ini menciptakan catatan baru bagi MAN Insan Cendekia Siak. Ia menjadi siswa pertama dari madrasah tersebut yang berhasil menembus Paskibraka tingkat pusat sekaligus mewakili Riau.

Perjalanan Rizqy dimulai dari seleksi Paskibraka Provinsi Riau pada 16–21 Mei 2026 di Pekanbaru. Ia harus melewati serangkaian pengujian, mulai dari kesehatan dan kesamaptaan jasmani hingga wawasan kebangsaan, psikologi, peraturan baris-berbaris, kepribadian, kepemimpinan, dan kedisiplinan.

Rizqy akhirnya masuk tiga besar putra terbaik Riau dan melanjutkan tahapan verifikasi di tingkat pusat.

Langkahnya ke Istana dengan demikian bukan hanya pencapaian personal. Ia membawa sebuah cerita dari Siak: bahwa ruang pendidikan madrasah juga dapat melahirkan anak-anak muda yang siap berdiri dalam barisan terdepan upacara kenegaraan.

Adzra dan Disiplin yang Menjadi Jalan

Dari Banten, ada Adzra Khairy Fadian, siswi kelas XI MAN 1 Kota Serang. Ketertarikannya pada kegiatan baris-berbaris dan kedisiplinan mengantarkannya mengikuti proses seleksi yang berlapis hingga tingkat nasional.

Perjalanan itu sekaligus menjadi ruang bagi Adzra untuk menguji kesiapan fisik dan mental, memperluas wawasan kebangsaan, serta belajar tentang arti tanggung jawab.

Kini, ia mendapat kepercayaan membawa nama Banten sekaligus MAN 1 Kota Serang dalam Paskibraka tingkat pusat 2026.

Khalyana, Dari Paskibra hingga Jurnalistik

Sementara itu, Khalyana Zahira Sandi datang dari MAN 1 Lubuklinggau, Sumatera Selatan.

Aktivitasnya di madrasah memperlihatkan sisi lain dari seorang calon pemimpin muda. Ia tidak hanya aktif dalam ekstrakurikuler Paskibra, tetapi juga terlibat dalam Tim Jurnalistik Laskar Madrasah dan Improv Art Community.

Paskibra menjadi ruang baginya untuk belajar disiplin. Jurnalistik membuka kesempatan untuk mengasah kepekaan dan cara melihat lingkungan. Sementara kegiatan seni mempertemukannya dengan ruang kreativitas.

Ketiganya akhirnya bertemu pada satu titik yang sama: barisan Paskibraka tingkat pusat.

Dari Siak, Serang, dan Lubuklinggau, mereka membawa cerita yang berbeda. Namun ketika Merah Putih dikibarkan, perbedaan asal itu seakan menemukan satu makna.

Madrasah tidak hanya mengajarkan bagaimana seseorang mengenal nilai. Ia juga memberi ruang untuk menghidupkan nilai itu melalui tindakan.

Dan di Istana Merdeka, tiga siswa madrasah tersebut akan belajar bahwa menjadi bagian dari sejarah bukan selalu tentang berada di panggung paling depan. Kadang, ia hadir dalam ketepatan langkah, tegaknya tubuh, dan kesetiaan menjaga Merah Putih tetap berkibar.

Penulis : DaBon |Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan