banner 728x250

Gol Menit Akhir Selamatkan Satria Sanggeni, Pemuda Jaya Gagal Menjaga Keunggulan

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA – Ada pertandingan yang ditentukan oleh kualitas teknik, ada pula yang dimenangkan oleh ketahanan fisik. Di Lapangan Sintetis 2 PSF Pancoran, Sabtu (4/7), Satria Sanggeni dan Pemuda Jaya memperlihatkan bahwa sepak bola usia muda juga berbicara tentang daya juang yang tak surut hingga detik terakhir.

Di bawah suhu Jakarta yang menyentuh 33 hingga 35 derajat Celsius, kedua tim memainkan sepak bola terbuka. Tempo pertandingan tinggi sejak peluit awal dibunyikan wasit Tauvan. Serangan silih berganti mengalir, membuat duel berlangsung hidup selama 70 menit.

banner 325x300

Pemuda Jaya tampil lebih efektif pada babak pertama. Memanfaatkan celah di pertahanan lawan, Sembalun Nuesa mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-20 setelah menaklukkan penjaga gawang Muhammad Khowen Labib. Gol itu menjadi pembeda sekaligus mengantar Pemuda Jaya menutup paruh pertama dengan keunggulan 1-0.

Memasuki babak kedua, lanskap pertandingan berubah. Satria Sanggeni meningkatkan tekanan, sementara Pemuda Jaya berusaha mempertahankan keunggulan di tengah kondisi fisik pemain yang mulai terkuras akibat cuaca terik.

Momentum yang dinanti kubu Satria akhirnya datang ketika pertandingan memasuki penghujung laga. Menit ke-68 menjadi titik balik. Dalam kemelut di depan gawang, Maftuh Rihizki mampu memaksimalkan peluang dan menaklukkan kiper Qawwam Javier. Gol itu membuyarkan harapan Pemuda Jaya membawa pulang tiga poin sekaligus mengunci skor akhir 1-1.

Pelatih Pemuda Jaya, Windu Hanggoro Putra, menilai anak asuhnya sejatinya mampu menjalankan strategi yang telah disiapkan. Namun, kondisi kebugaran sejumlah pemain menjadi kendala yang memengaruhi hasil akhir.

“Kami sebenarnya sudah menjalankan apa yang dipersiapkan saat latihan. Sayangnya, beberapa pemain kurang sehat dan tetap dipaksakan bermain sehingga hasilnya belum maksimal,” ujarnya.

Sementara itu, pelatih Satria Sanggeni, Syahrul Ramadhan, memilih mensyukuri satu poin yang diraih timnya. Menurutnya, cuaca menjadi tantangan tersendiri bagi kedua kesebelasan.

“Hasil ini tetap kami syukuri. Anak-anak belum tampil maksimal karena cuaca yang sangat panas, tetapi lawan juga bermain dengan baik,” katanya.

Hasil imbang ini mungkin tidak sepenuhnya memuaskan kedua tim. Namun, dari pertandingan tersebut tersaji gambaran bahwa semangat pantang menyerah dan kemampuan bertahan dalam tekanan menjadi bekal penting dalam perjalanan panjang Kompetisi Liga Jakarta U17 Piala Gubernur 2026.Jika diinginkan, saya juga bisa membuat versi yang lebih khas gaya Kompas dengan narasi yang lebih puitis, reflektif, dan kuat pada unsur human interest.|Foto : Prass

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan