banner 728x250

Fadli Zon: Budaya Adalah Modal Bangsa, Buku Ruhut-Ruhut Adat Batak Toba Jadi Jembatan Pelestarian Tradisi

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa kebudayaan merupakan modal strategis bangsa yang harus dijaga, didokumentasikan, dan dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif. Penegasan itu disampaikan saat menjadi pembicara kunci dalam peluncuran buku Ruhut-Ruhut Adat Batak Toba di Jabodetabek yang diterbitkan Lokus Adat Budaya Batak (LABB), di Auditorium Universitas Mpu Tantular, Jakarta Timur.

Buku tersebut dihadirkan sebagai referensi sekaligus panduan bagi masyarakat Batak Toba, khususnya di wilayah Jabodetabek, dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan adat secara lebih tertata, bermakna, dan tetap relevan dengan dinamika kehidupan modern.

banner 325x300

Dalam sambutannya, Fadli Zon mengapresiasi lahirnya buku tersebut sebagai bentuk nyata upaya mendokumentasikan sekaligus melestarikan tradisi Batak Toba. Menurutnya, publikasi menjadi langkah penting agar nilai-nilai budaya tidak hilang ditelan zaman.

“Hal ini sejalan dengan pepatah publish or binasa, yang menekankan pentingnya publikasi sebagai sarana pelestarian pengetahuan dan tradisi,” ujar Fadli Zon.

Ia menjelaskan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, kebudayaan tidak hanya berbicara mengenai seni, tetapi mencakup 10 Objek Pemajuan Kebudayaan, mulai dari adat istiadat, bahasa, tradisi lisan, manuskrip, hingga berbagai ekspresi budaya lainnya.

Dalam konteks budaya Batak, seluruh unsur tersebut masih hidup dan berkembang, termasuk keberadaan manuskrip Batak yang sebagian besar kini tersimpan di luar negeri.

“Kebudayaan sangatlah luas, tetapi inilah kekayaan kita yang luar biasa. Indonesia memiliki keberagaman budaya yang luar biasa. Saya menyebutnya sebagai negara mega keanekaragaman. Kekayaan nasional kita bukan hanya batu bara, nikel, minyak, atau kelapa sawit, tetapi budaya merupakan modal yang sangat penting,” tegasnya.

Fadli Zon juga menekankan bahwa kebudayaan harus mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan industri budaya. Menurutnya, hilirisasi budaya akan melahirkan berbagai kekayaan intelektual yang bernilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, ia turut menyinggung keberhasilan budaya Batak menembus media populer, termasuk film yang diperankan para komedian Batak dan berhasil mencatatkan rekor sebagai film dengan jumlah penonton terbanyak dalam sejarah perfilman Indonesia.

Menurutnya, keberhasilan itu menunjukkan bahwa keberagaman budaya Indonesia mampu diterima lintas suku dan agama serta menjadi perekat kehidupan berbangsa.

“Indonesia justru menjadikan keberagaman sebagai sumber kekuatan, modal sosial, dan perekat kebinekaan bangsa,” katanya yang disambut tepuk tangan para tamu undangan.

Fadli Zon juga mengapresiasi konsep adaptasi adat Batak Toba di wilayah Jabodetabek melalui pendekatan 3E, yakni Esensial, Efektif, dan Efisien. Pendekatan tersebut dinilai mampu menjaga nilai-nilai luhur adat tanpa mengabaikan kebutuhan masyarakat perkotaan yang semakin dinamis.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Mangaraja LABB, Pontas Sinaga, menyampaikan rasa bangga atas kehadiran Menteri Kebudayaan dalam peluncuran buku tersebut. Menurutnya, dukungan pemerintah menjadi dorongan penting bagi upaya pelestarian budaya Batak.

“Kami berharap buku ini menjadi jembatan antara generasi tua dan generasi muda sehingga anak-anak muda Batak tidak hanya mengenal adat sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai identitas dan kebanggaan masa depan,” ujarnya.

Penerbitan buku ini dilandasi keyakinan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga memerlukan inovasi dan pembaruan tata kelola yang tetap berpijak pada nilai-nilai luhur warisan para leluhur.

Turut hadir dalam acara tersebut Direktur Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Sjamsul Hadi; tokoh budaya Batak, Payaman Simanjuntak; Ketua Penasehat Dewan Mangaraja, Brigjen TNI (Purn) Berlin Hutajulu; serta Ketua Umum DPP-LABB, Kol. (Purn) N. Simarmata.

Menutup pidatonya, Fadli Zon mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat pelestarian budaya melalui dokumentasi, perlindungan kekayaan intelektual, pengembangan industri budaya, serta kolaborasi lintas sektor agar kekayaan budaya Indonesia mampu menjadi kekuatan ekonomi sekaligus memperkokoh jati diri bangsa.|Foto : Kemenbud RI

Penulis : DaBon| Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan