banner 728x250

Efek Rumah Kaca dan Leila Chudori Satukan Musik dan Perlawanan dalam OST Laut Bercerita

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA — Ada lagu yang sekadar menjadi pelengkap film, tetapi ada pula yang lahir sebagai napas dari cerita itu sendiri. “Matilah Kau Mati”, karya terbaru Efek Rumah Kaca (ERK), hadir dalam kategori kedua. Lagu ini menjadi original soundtrack (OST) film Laut Bercerita, adaptasi dari novel laris karya Leila S. Chudori yang dijadwalkan tayang di bioskop pada Oktober 2026.

Diproduksi Pal8 Pictures, lagu tersebut dirilis di seluruh platform musik digital mulai 31 Juli 2026. Alih-alih menawarkan komposisi megah, “Matilah Kau Mati” justru tampil sederhana. Petikan gitar, sentuhan electric piano, serta lapisan synthesizer mengiringi karakter vokal khas Cholil Mahmud yang menyampaikan setiap larik dengan tenang, namun menyisakan gema yang kuat.

banner 325x300

Lagu ini berangkat dari puisi “Di Hari Kematianku” yang terdapat dalam novel Laut Bercerita. Dalam proses kreatifnya, Leila S. Chudori mengajak Cholil Mahmud untuk menerjemahkan puisi tersebut ke dalam bahasa musik. Bersama grup Efek Rumah Kaca, mereka kemudian meramu komposisi baru dengan melibatkan Knogg sebagai produser sekaligus penyusun aransemen.

Kolaborasi lintas generasi itu menghadirkan warna yang berbeda bagi perjalanan musikal Efek Rumah Kaca. Knogg, moniker Angan Senja yang juga merupakan putra Cholil Mahmud, memasukkan elemen synthesizer yang tajam, terdistorsi, dan bernuansa disonansi untuk membangun ketegangan emosional. Sentuhan elektronik tersebut menjadi salah satu eksplorasi baru bagi ERK yang selama ini dikenal dengan aransemen yang lebih organik.

“Lagu ini ingin menggandakan semangat yang sudah ada di dalam film dan novelnya,” ujar Cholil Mahmud. Menurutnya, keberanian dan harapan selalu memiliki cara untuk tumbuh kembali selama masih ada orang yang bersedia menyuarakannya.

Judul “Matilah Kau Mati” sendiri bukan dipilih tanpa alasan. Leila S. Chudori memadukan puisinya dengan larik ikonik ciptaan penyair Sutardji Calzoum Bachri, “Matilah Kau Mati, Kau Akan Lahir Berkali-kali”, yang berulang kali muncul dalam semesta Laut Bercerita. Kalimat tersebut telah menjadi simbol perlawanan, harapan, dan keberanian yang terus hidup meski upaya pembungkaman terjadi.

Bagi Leila, pesan itu memiliki makna yang sangat relevan. Keberanian, menurutnya, tidak pernah benar-benar hilang. Saat satu suara dibungkam, suara lain akan muncul menggantikannya. Semangat itulah yang ingin terus dihidupkan, baik melalui novel, film, maupun lagu yang kini menjadi bagian dari perjalanan kisah tersebut.

Di balik musik yang terdengar lirih, Knogg justru menyisipkan energi perlawanan yang semakin menguat menuju bagian reff. Distorsi synthesizer, dinamika aransemen, hingga hentakan snare pada bagian akhir dirancang untuk membangun atmosfer yang mendorong pendengar agar berani bersuara dan tidak kehilangan harapan.

Film Laut Bercerita disutradarai Yosep Anggi Noen dengan skenario yang ditulis bersama Leila S. Chudori. Film produksi Pal8 Pictures yang bekerja sama dengan VMS Studio, Jagartha Lynx Films, dan Brandlink ini menghadirkan deretan pemain lintas generasi, di antaranya Reza Rahadian, Yunita Siregar, Eva Celia, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Dian Sastrowardoyo, Kevin Julio, Yoga Pratama, Ibnu Jamil, hingga Natalius Chendana.

Melalui “Matilah Kau Mati”, Efek Rumah Kaca tidak sekadar menghadirkan soundtrack sebuah film. Mereka menghadirkan ruang refleksi bahwa keberanian untuk berbicara, mengingat, dan melawan ketidakadilan akan selalu menemukan jalannya untuk lahir kembali—berkali-kali.

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan