Intimate.co.id|MAGELANG -|Suasana hening dan penuh kekhusyukan menyelimuti Taman Lumbini, kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, ketika ribuan umat Buddha dari berbagai negara memulai rangkaian Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) 2026, Jumat (24/7/2026). Sebanyak 2.045 peserta yang terdiri atas para bhikkhu mancanegara, samanera, atthasilani, serta umat Buddha menjalankan Atthasila bersama-sama melantunkan Kitab Suci Tipitaka sebagai wujud pendalaman ajaran Dhamma.
Kegiatan yang telah memasuki penyelenggaraan ke-11 ini digelar oleh Sangha Theravada Indonesia (STI) bekerja sama dengan Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI). Selain menjadi tradisi keagamaan tahunan, ITC juga menjadi ruang memperkuat spiritualitas sekaligus meneguhkan semangat kebersamaan lintas bangsa.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama, Supriyadi, menegaskan bahwa pembacaan Kitab Suci Tipitaka tidak berhenti pada pelafalan semata, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Menurutnya, nilai-nilai Dhamma memiliki peran penting dalam membangun karakter, memperkuat kepedulian sosial, serta menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis.
Ia mengatakan pembangunan fisik akan kehilangan makna apabila tidak ditopang oleh karakter yang kuat. Karena itu, Indonesia Tipitaka Chanting menjadi bagian dari upaya membangun jati diri umat Buddha Indonesia melalui penghayatan nilai-nilai agama.
Supriyadi juga menekankan bahwa kehidupan beragama dan kehidupan berbangsa tidak dapat dipisahkan. Ketaatan menjalankan ajaran agama harus berjalan seiring dengan tanggung jawab sebagai warga negara yang mencintai tanah air.
Menurutnya, semakin mendalam seseorang memahami ajaran agamanya, semakin besar pula rasa kasih sayang dan penghormatan kepada sesama, termasuk mereka yang berbeda keyakinan. Nilai tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga kerukunan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Ia menegaskan Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimas Buddha akan terus berkomitmen memberikan pelayanan dan dukungan bagi umat Buddha di Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, Supriyadi didampingi Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama, Thobib Al Asyhar.
Ketua Panitia Indonesia Tipitaka Chanting 2026, Bhante Guttadhammo Mahāthera, menjelaskan bahwa pelantunan Tipitaka merupakan sarana untuk memperdalam pemahaman sekaligus menghayati ajaran Buddha secara utuh.
Menurutnya, setelah dibaca, isi Kitab Suci Tipitaka perlu direnungkan agar mampu mengubah cara berpikir dan bertindak umat. Tipitaka diharapkan menjadi pedoman, ukuran keyakinan, sekaligus tuntunan dalam kehidupan sehari-hari sehingga membawa manfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat luas.
Mengusung tema “Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri”, ITC 2026 mencerminkan tekad umat Buddha untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Dhamma melalui kontribusi nyata bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Rangkaian Indonesia Tipitaka Chanting akan mencapai puncaknya pada Perayaan Asadha Mahapuja di pelataran Candi Borobudur, 26 Juli 2026. Perayaan tersebut menjadi momentum penting bagi umat Buddha untuk mengenang khotbah pertama Sammasambuddha Gotama kepada lima pertapa, yang menandai dimulainya penyebaran ajaran Dhamma ke seluruh dunia.
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















