banner 728x250

Tiya Rima Tumbuh dan Bersemi di Ladang Terbaik

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|SURAKARTA — Ada perjalanan yang tak selalu ditandai sorak-sorai. Sebagian justru tumbuh dari kesunyian, dari keraguan, bahkan dari keberanian untuk melangkah ketika orang-orang terdekat belum tentu percaya.

Perjalanan semacam itulah yang hendak dibagikan singer-songwriter asal Surakarta, Tiya Rima, melalui pameran tunggal bertajuk Perjalanan Perkenalan Tiya Rima. Berlangsung di Ruang Rame Dendang, Galeri Lokananta, Surakarta, pameran ini dapat dikunjungi mulai 8 Agustus hingga 7 Oktober 2026.

banner 325x300

Bagi Tiya, ruang pamer bukan sekadar tempat memajang benda-benda masa lalu. Ia menjadi semacam ruang untuk menengok kembali jalan yang pernah ditempuh jalan seorang musisi independen yang sejak awal harus menapaki karier dengan keyakinannya sendiri.

Lahir dari keluarga nonmusisi, Tiya memulai perjalanan bermusik tanpa sokongan besar dari lingkungan terdekat. Namun, ketidakyakinan orang lain tak serta-merta membuat langkahnya surut. Ia justru memilih percaya bahwa musik adalah panggilan hidup yang mesti dijalani.

Jalan itu, tentu saja, tidak selalu lurus. Ada masa ketika langkah terasa seperti bunga yang layu. Kemudian berbunga kembali, sebelum kembali layu dan menemukan kesempatan untuk bersemi.

Metafora bunga tersebut menjadi napas penting dalam pameran ini. Bagi Tiya, kegagalan dan keberhasilan bukanlah dua kutub yang saling meniadakan. Keduanya adalah bagian dari proses yang memungkinkan seseorang bertumbuh dan menemukan ladang terbaik bagi dirinya.

Karena itu, pameran ini lebih banyak berbicara melalui arsip ketimbang karya visual konvensional. Pengunjung diajak menelusuri jejak Tiya melalui rilisan awal lagu-lagunya dalam bentuk CD, instalasi audio, catatan lirik, hingga arsip pemberitaan.

Ada pula memorabilia berupa buket-buket bunga yang pernah diterimanya. Benda-benda tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi di tangan Tiya ia berubah menjadi penanda: bahwa perjalanan yang panjang ternyata meninggalkan jejak, dan bahwa apresiasi kadang hadir setelah seseorang cukup lama bertahan.

Pelantun Sekilas Kisah itu juga membawa sebuah taman kecil ke tengah ruang pamer. Di belakangnya terbentang kanvas merah yang dilukis sendiri oleh Tiya.

Taman itu seperti jeda. Sebuah ruang kecil untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk perjalanan. Warna dan suasananya mengajak pengunjung menyelami emosi, sekaligus mengingatkan bahwa diri sendiri tetap berharga, bahkan ketika pencapaian belum seperti yang diharapkan.

Di bagian lain, pengunjung dapat menemukan prolog serta tiga cuplikan lagu dari album Cycle Logic yang dijadwalkan dirilis tahun ini. Musik, arsip, dan benda personal berpadu menjadi semacam autobiografi yang tidak ditulis dalam bentuk buku.

Tiya tidak hanya sedang memperkenalkan dirinya sebagai musisi. Ia sedang memperkenalkan proses yang membentuk dirinya.

Di ujung perjalanan pameran, pengunjung diajak meninggalkan sebuah jejak pribadi. Tersedia Kartu Harapan yang dapat diisi dengan doa atau mimpi, lalu dibawa pulang bersama souvenir kit yang dibuat sendiri oleh Tiya Rima.

Di titik itu, kisah Tiya perlahan bergeser menjadi kisah siapa saja.

Sebab, setiap orang mungkin memiliki ladang terbaiknya masing-masing. Ada yang menemukannya setelah berkali-kali gagal. Ada pula yang harus menunggu cukup lama sebelum bunga yang dirawatnya menunjukkan warna.

Kurator Galeri Lokananta, Caroline S. Darmawan, berharap pameran ini dapat menjadi sumber kekuatan dan harapan bagi mereka yang tanpa lelah mencurahkan tenaga untuk sesuatu yang diyakininya.

Mantra Tiya sederhana: “Tumbuh dan Bersemilah di Ladang Terbaik.”

Kalimat itu sekaligus menjadi ajakan untuk memandang kembali kegagalan. Bukan sebagai akhir, melainkan sebagai bagian dari pertumbuhan. Sebuah pengingat bahwa hidup tidak selalu menuntut seseorang segera berhasil; terkadang ia hanya meminta kita untuk terus berjalan.Melalui pameran perdananya, Tiya ingin pengunjung melihat dunianya, tetapi juga menemukan sesuatu dari dunia mereka sendiri: pengharapan, kekuatan, dan keyakinan bahwa diri ini cukup berharga untuk terus diperjuangkan.

Pameran tersebut juga memperlihatkan upaya Galeri Lokananta untuk menjaga arsip musik tetap hidup dalam bentuk yang lebih dekat dengan pengalaman manusia. Lokananta, yang tahun ini memasuki usia ke-70, terus membuka ruang bagi pameran, pengarsipan, serta program komunitas agar tetap relevan bagi pengunjung dan para kolaborator.

Di Surakarta, musik pun menemukan cara lain untuk bercerita.

Kali ini bukan lewat panggung dan tepuk tangan, melainkan melalui benda-benda yang pernah menemani perjalanan seorang musisi.

Dan mungkin, dari sebuah taman kecil berlatar merah, dari selembar kartu harapan, atau dari rekaman lagu yang pernah diputar berulang-ulang, pengunjung akan pulang membawa satu kesadaran sederhana: tidak semua bunga mekar pada musim yang sama.

Yang terpenting, jangan berhenti tumbuh.|Foto : Koleksi Tiya Rima

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan