Intimate.co.id|JAKARTA-| Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) terus memperkuat fondasi ekonomi kreatif sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu langkah yang didorong ialah membuka akses pembiayaan yang lebih luas melalui pemanfaatan kekayaan intelektual sebagai aset bernilai ekonomi.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar saat menjadi pembicara dalam forum Finance 2045 yang diselenggarakan Trescon Global di Jakarta, Rabu (8/7/2026). Dalam sesi bertajuk Creative Economy as Indonesia’s Next Investable Growth Engine, Irene menilai sektor ekonomi kreatif memiliki potensi pertumbuhan yang besar, tetapi masih menghadapi keterbatasan akses permodalan.
Menurut Irene, Kementerian Ekraf tengah mendorong sekuritisasi kekayaan intelektual agar hak cipta, desain, maupun karya kreatif dapat diakui sebagai aset yang layak dijadikan dasar pembiayaan. Langkah ini diharapkan menghadirkan instrumen baru bagi perbankan untuk menilai nilai ekonomi aset kreatif, baik yang telah menghasilkan pendapatan maupun yang masih berupa hak kekayaan intelektual.
“Melalui skema tersebut, pelaku ekonomi kreatif diharapkan semakin mudah memperoleh akses pembiayaan sehingga mampu memperbesar skala usahanya,” ujar Irene.
Forum Finance 2045 yang mengusung tema Bridging Global Capital to Indonesia’s Digital Boom mempertemukan pemerintah, investor, dan pelaku industri untuk memperkuat akses investasi di sektor ekonomi kreatif dan ekonomi digital Indonesia.
Optimisme terhadap sektor ini juga didukung capaian investasi yang terus meningkat. Hingga kuartal III 2025, realisasi investasi ekonomi kreatif mencapai Rp132,04 triliun atau sekitar 9 persen dari total investasi nasional. Angka tersebut telah memenuhi sekitar 97 persen target investasi tahunan.
Selain itu, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif pada akhir 2025 mencapai 5,54 persen, melampaui target sebesar 5,3 persen.
Untuk menjaga tren positif tersebut, Kementerian Ekraf juga mempercepat penyelesaian berbagai tantangan yang dihadapi pelaku industri kreatif, termasuk perluasan penggunaan QRIS untuk transaksi internasional. Di saat yang sama, kementerian memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan blockchain guna memperkuat perlindungan hak cipta sekaligus mempermudah produk kreatif Indonesia memasuki pasar global.
Melalui kolaborasi dengan investor global, lembaga keuangan, dan berbagai mitra strategis, Kementerian Ekraf berharap sektor ekonomi kreatif dapat berkembang menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut, Irene Umar turut didampingi Direktur Pengembangan Akses Pendanaan, Pembiayaan, dan Investasi, Anggara Hayun Anujuprana.|Foto : Ist.
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















