Intimate.co.id|JAKARTA — Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan warna baru melalui Foufo, film komedi fiksi ilmiah (sci-fi) berlatar budaya Madura yang akan tayang di bioskop mulai 9 Juli 2026. Diproduksi oleh Skak Studios bersama Sinemart, film ini menjadi film berbudaya Madura pertama di Indonesia yang menggabungkan komedi khas, drama keluarga yang menyentuh, serta sentuhan visual alien yang dikerjakan animator lokal.
Disutradarai oleh , Foufo menawarkan premis yang tidak biasa. Kisahnya bermula ketika sebuah UFO jatuh di Madura dan menghadirkan alien yang justru membantu sebuah keluarga yang sedang berjuang menghadapi tekanan ekonomi. Dari situ lahirlah berbagai situasi absurd yang memancing gelak tawa, namun tetap dibalut cerita hangat tentang kasih sayang seorang anak kepada ibunya.
Meski sekitar 70 persen dialog menggunakan bahasa Madura, cerita Foufo tetap mudah dipahami oleh penonton luas karena mengangkat tema universal tentang pengorbanan, keluarga, dan impian seorang anak untuk mewujudkan keinginan sang ibu berangkat haji.
Menurut Bayu Skak, film ini menjadi langkah baru dalam perjalanan kreatifnya setelah sebelumnya dikenal lewat genre horor komedi.
“Melalui Foufo, kami ingin menghadirkan cerita yang unik, lucu, tetapi juga mengharukan. Ini menjadi film berbudaya Madura pertama yang memadukan komedi sci-fi dengan kisah keluarga yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Produser eksekutif menilai kolaborasi Sinemart dan Skak Studios kembali menghadirkan ide segar yang berpotensi memberi pengalaman berbeda bagi penonton Indonesia.
Salah satu daya tarik film ini adalah penampilan sebagai pemeran utama. Berbeda dari citranya sebagai komedian, kali ini ia ditantang memainkan karakter yang lebih emosional dan sarat drama.
“Biasanya saya membuat orang tertawa. Di film ini justru saya dituntut memainkan adegan-adegan emosional. Ini menjadi pengalaman sekaligus kebanggaan karena bisa terlibat dalam film berbudaya Madura pertama di Indonesia,” katanya.
Film ini juga menjadi debut akting layar lebar bagi Siti Kam yang tampil pada usia 63 tahun. Chemistry antara karakter Muslim dan Ibu Saiqona menjadi salah satu kekuatan emosional yang diharapkan mampu menyentuh hati penonton.
Keaslian budaya Madura semakin terasa karena hampir 90 persen pemain berasal dari Madura. Mereka dipilih melalui proses open casting yang diikuti sekitar 2.500 peserta, sehingga karakter dan dialog terasa lebih autentik.
Dari sisi teknis, Foufo turut melibatkan studio animasi lokal Surabaya, Hompimpa, yang mengerjakan karakter alien dengan melibatkan sekitar 120 animator. Langkah ini menjadi bukti bahwa kreativitas animator Indonesia tetap memiliki tempat penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Dibintangi Tretan Muslim, Habib Ja’far, Ade “Bibier” Kurniyawan, Benidictus Siregar, Bambang Ceper, Siti Kam, Fuad Sasmita, Sangat Mahendra, Anggun Dwi, Ina Pogang, Rifqy Abdillah, Kiano, Hari Otong, Rizki Bibir, hingga DJ Rara, Foufo diharapkan menjadi salah satu tontonan yang menyegarkan di pertengahan tahun.
Dengan perpaduan komedi yang mengundang tawa, drama keluarga yang menghangatkan hati, serta sentuhan sci-fi yang jarang diangkat dalam perfilman nasional, Foufo berambisi membuka jalan bagi eksplorasi genre baru di industri film Indonesia.
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















