banner 728x250

Memburu Pemangsa: Saat Manusia Menjadi Sumber Teror Paling Mengerikan

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA— Horor tak selalu datang dari sosok hantu atau iblis. Dalam Memburu Pemangsa, ancaman justru lahir dari manusia mereka yang memangsa anak-anak dan bersembunyi di balik kejahatan yang terorganisasi.

Film produksi Sinemaku Pictures ini menjadi karya terbaru Umay Shahab sebagai produser sekaligus sutradara. Mengusung genre horror-crime-action, Memburu Pemangsa dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026.

banner 325x300

Film ini menghadirkan Laura Basuki, Prilly Latuconsina, Taskya Namya, dan Yasamin Jasem sebagai empat perempuan yang berada di garis depan sebuah investigasi. Mereka memburu predator yang menjadikan anak-anak sebagai korban.

Bukan sekadar menghadirkan ketegangan, film ini membawa isu kekerasan terhadap anak ke dalam sebuah cerita investigasi yang memadukan horor, kriminal, dan aksi.

Bagi Umay Shahab, Memburu Pemangsa menjadi bagian penting dari perjalanan kreatifnya.

«“Sebagai manusia dan pembuat film, tentunya saya ingin bertumbuh. Memburu Pemangsa adalah karya saya dalam bentuk yang baru, lewat sajian horror-crime-action yang akan memberikan pengalaman menonton penuh ketegangan dan warna yang berbeda dari karya-karya saya sebelumnya. Ini menjadi seperti spiritual journey bagi saya,” ujar Umay.»

Ia berharap film tersebut tidak berhenti sebagai tontonan. Isu kekerasan terhadap anak yang diangkat dalam film dinilai masih penting untuk terus dibicarakan.

“Film ini membawa isu yang penting, tentang kejahatan pada anak yang angkanya hingga saat ini juga masih sangat tinggi. Semoga film Memburu Pemangsa juga bisa memberi dampak pada isu yang sangat penting untuk terus kita bicarakan,” kata Umay.

Laura Basuki: Horor yang Mengajak Berdiskusi

Laura Basuki yang memerankan Agnes melihat pendekatan horror-action menjadi salah satu alasan dirinya tertarik bergabung. Film ini juga menandai kolaborasi pertamanya dengan Sinemaku Pictures.

Menurut Laura, perpaduan horor, kriminal, aksi, dan investigasi memberikan pengalaman berbeda dibanding film horor yang selama ini ia mainkan.

“Semua cinematic experience akan kalian rasakan di film ini, saat horror-crime-action menyatu, dan ini pengalaman yang baru bagiku,” ujar Laura.

Ia berharap film tersebut dapat membuka ruang percakapan mengenai apa yang harus dilakukan ketika seseorang menghadapi atau mengetahui kasus kekerasan terhadap anak.

“Semoga film ini juga bisa memberikan ruang diskusi untuk orang-orang, agar semakin menyadarkan mereka harus meminta bantuan ke mana ketika hal-hal serupa terjadi pada mereka,” katanya.

Prilly Soroti Budaya Diam

Prilly Latuconsina melihat persoalan kekerasan seksual terhadap anak bukan semata-mata karena kurangnya informasi.

Menurutnya, informasi mengenai kasus kekerasan terhadap anak sebenarnya sudah banyak beredar. Persoalannya adalah bagaimana lingkungan memberikan respons ketika kasus tersebut muncul.

“Saya melihat isu kekerasan seksual pada anak yang terjadi di Indonesia bukan karena pemberitaan minim, informasi sudah banyak tapi kita juga perlu melihat ada budaya diam,” ujar Prilly.

Ia menilai respons terhadap sebuah kasus tidak seharusnya berhenti pada pemberitaan yang viral selama beberapa hari.

“Jadi viral sehari, dua hari, tidak ada penanganan yang tepat. Padahal harus ada aksi ketika ada berita-berita tersebut. Isu ini perlu bantuan kita semua untuk bersuara dan memberikan respons yang tepat,” katanya.

Horor Sekaligus Aksi

Bagi Taskya Namya, memerankan Brina bukan pekerjaan ringan. Ia harus menghadapi tuntutan fisik dari dua elemen utama film: horor dan action.

“Bu­tuh tenaga berlebih, karena capeknya dua kali lipat. Penonton sepertinya juga akan ikut merasakan ngos-ngosannya mengikuti kami berempat menginvestigasi predator di film ini,” kata Taskya.

Ia juga merasa memiliki kedekatan personal dengan karakter yang diperankannya.

“Aku bisa melihat gambaran aku ada di karakter Cia di film ini. Seorang tante yang menjaga keponakannya. Dan di kehidupan nyata, aku juga seorang tante yang harus menjaga tiga keponakanku,” ujarnya.

Sementara itu, Yasamin Jasem memerankan Anya, jurnalis yang memiliki ketertarikan pada riset dan demonologi.

Yasamin mengaku memiliki sejumlah kesamaan dengan karakter tersebut, terutama dalam ketertarikannya terhadap dokumenter kriminal dan kisah tentang cult.

“Aku dan Anya memiliki kedekatan. Anya adalah jurnalis yang melakukan riset dan memiliki minat pada demonologi. Sementara aku juga banyak menonton documentary crime dan berbau cult,” katanya.

Para pemain juga sempat bertemu dengan Komnas Perlindungan Anak sebagai bagian dari proses pendalaman isu yang diangkat dalam film.

Menurut Yasamin, pertemuan tersebut semakin menguatkan alasan mereka untuk menyampaikan isu kekerasan terhadap anak melalui film.

Bukan Sekadar Film Horor

Selain empat pemeran utama, Memburu Pemangsa turut menampilkan Teuku Rifnu Wikana, Andri Mashadi, Septian Dwi Cahyo, Shareefa Daanish, dan Jordan Omar.

Sinemaku Pictures sebelumnya telah menggelar acara Nonton Duluan di tujuh kota, yakni Jakarta, Bekasi, Bogor, Depok, Yogyakarta, Medan, dan Makassar. Antusiasme penonton disebut tinggi dengan sebagian besar tiket terjual habis.

Kini, Memburu Pemangsa memasuki pertarungan sebenarnya: bertemu penonton di seluruh Indonesia.

Dengan menjadikan manusia sebagai sumber teror, film ini mencoba menghadirkan jenis ketakutan yang lebih dekat dengan realitas. Empat jurnalis perempuan bukan hanya mengejar predator, tetapi juga berhadapan dengan sebuah kejahatan yang menempatkan anak-anak sebagai korban.

Memburu Pemangsa tayang mulai 24 September 2026 di bioskop Indonesia.[]

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan