Intimate.co.id|JAKARTA – Sejarah musik Indonesia pada era 1980-an mencatat lahirnya banyak kelompok musik dengan karakter kuat. Namun, hanya sedikit yang berani menghadirkan konsep musikal selengkap dan semegah Drakhma.
Nama Drakhma sendiri diambil dari mata uang Yunani kuno, sebuah pilihan yang mencerminkan identitas unik kelompok ini. Dibentuk pada 1980, Drakhma menghadirkan formasi yang berisi musisi-musisi papan atas Indonesia: Dani Mamesah di posisi drum, Dodo Zakaria pada piano dan kibor, Gideon Tengker sebagai gitaris, Rudy Gagola di bass, serta Ricky Basuki sebagai vokalis.
Yang membuat Drakhma berbeda dibanding banyak grup sezamannya adalah keberanian mereka mengusung konsep musik yang kaya warna. Bukan sekadar band pop, Drakhma memadukan unsur pop, jazz, rhythm and blues (R&B), hingga sentuhan blues dalam satu kemasan yang elegan.
Keistimewaan lain hadir melalui penggunaan brass section yang kala itu masih jarang diterapkan secara konsisten oleh grup musik Indonesia. Mereka didukung Wawan Tagalos personel New Rollies yang memainkan trombone dan flute, bersama Chalik pada saksofon serta Eddy pada trompet. Aransemen mereka juga diperkuat empat penyanyi latar, yakni Uce Anwar, Eva Diana Sari, Christine Budiardjo, dan Daisy Maengkom.
Keberagaman warna musik Drakhma tak lepas dari latar belakang para personelnya.
Dodo Zakaria dikenal sebagai salah satu musisi paling berbakat pada masanya. Ia pernah berkarya bersama Bina Musika Band bersama Erwin Gutawa, Yoyok, dan Cendi Luntungan, sebelum bergabung dengan Ogle Eyes hingga God Bless. Pengalaman lintas genre itu membuat sentuhan jazz dan pop modern begitu terasa dalam karya-karya Drakhma.

Sementara itu, Rudy Gagola datang dari dunia rock. Sebelum bergabung dengan Drakhma, ia dikenal sebagai personel The Steel dan Brotherhood, bahkan pernah menggantikan kakaknya, Donny Fattah Gagola, di God Bless.
Pada awal dekade 1980-an, Dodo Zakaria dan Rudy Gagola juga menjadi dua nama penting di balik banyak rekaman Jackson Records & Tapes. Mereka mengiringi sekaligus menata musik bagi sejumlah penyanyi besar, seperti Iis Sugianto, Ebiet G. Ade, Kiki Maria, Vina Panduwinata, hingga Dian Pramana Poetra.
Pengalaman itu menjadikan kualitas musikal Drakhma berada di atas rata-rata. Tak mengherankan bila Gideon Tengker, Ricky Basuki, dan Dani Mamesah memilih Dodo Zakaria dan Rudy Gagola untuk melengkapi formasi band yang kemudian dikenang sebagai salah satu supergrup Indonesia pada masanya.
Meski perjalanan Drakhma tidak sepanjang sejumlah grup legendaris lainnya, jejak musikal mereka meninggalkan warna tersendiri dalam perkembangan musik nasional. Aransemen yang kaya, permainan instrumen yang matang, serta keberanian memadukan berbagai genre menjadikan karya-karya mereka tetap menarik untuk dinikmati hingga kini.
Selama kiprahnya, Drakhma melahirkan tiga album studio yang menjadi penanda perjalanan mereka di industri musik Indonesia, yakni Hari Esok (1980) bersama Jackson Records, Citra Bahagia (1982) melalui Sky Records, dan Tiada Kusadari (1984) yang dirilis RCA Records.
Di tengah maraknya tren musik pop sederhana pada masa itu, Drakhma hadir sebagai bukti bahwa musik Indonesia pernah memiliki kelompok yang mengedepankan eksplorasi artistik, kekuatan aransemen, dan kualitas permainan para musisinya. Kini, nama Drakhma menjadi bagian dari mozaik penting sejarah musik modern Indonesia yang layak dikenang oleh generasi lama maupun diperkenalkan kembali kepada penikmat musik masa kini.
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















