banner 728x250

Lomba Foto Nasional “Sekolah Rakyat” Dibuka, Arbain Rambey dan Hendra Lesmana: Kami Cari Foto yang Mampu Bercerita

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co,id | Depok – Lomba dan Pameran Fotografi Nasional “Sekolah Rakyat” resmi dibuka. Ajang yang digelar Majalah Fotografi MATA, PT Basik, bekerja sama dengan Kementerian Sosial RI dan didukung Asosiasi Fotografer Indonesia (AFI) ini mengajak masyarakat mengabadikan semangat pendidikan melalui karya fotografi yang inspiratif.

Mengusung tema “Sekolah Rakyat: Menangkap Asa, Mengabadikan Perubahan”, kompetisi ini terbuka bagi fotografer profesional, jurnalis foto, pegiat fotografi, mahasiswa, pelajar, hingga masyarakat umum. Penyelenggara berharap karya-karya yang lahir tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga menjadi dokumentasi visual perjalanan transformasi pendidikan Indonesia.

banner 325x300

Ketua Dewan Juri Arbain Rambey mengatakan lomba ini bukan sekadar mencari foto yang indah secara teknis, melainkan karya yang mampu menghadirkan cerita dan emosi.

“Foto yang baik bukan hanya indah secara visual, tetapi juga mampu bercerita. Kami ingin menemukan karya yang jujur, kuat, dan mampu menggambarkan semangat belajar, perjuangan, serta harapan yang tumbuh di Sekolah Rakyat,” kata Arbain,Selasa,(14/7/2026).

Fotografer senior itu menambahkan, penilaian akan lebih menitikberatkan pada kekuatan cerita, orisinalitas, dan dampak visual daripada sekadar aspek teknis.

Menurut Arbain, semangat pendidikan menjadi pesan utama yang ingin ditangkap dalam kompetisi ini.

“Melalui seragam, aktivitas belajar, hingga interaksi yang terekam dalam foto, kami ingin menunjukkan spirit anak-anak Indonesia untuk terus menuntut ilmu. Tidak ada keterbatasan yang dapat menghalangi mereka meraih cita-cita,” ujarnya.

Sementara itu, fotografer profesional Hendra Lesmana mengajak peserta menghadirkan karya yang menyentuh sisi kemanusiaan.

“Setiap sudut Sekolah Rakyat memiliki cerita. Jangan hanya mengejar foto yang indah, tetapi tangkap emosi, interaksi, dan nilai-nilai kemanusiaan yang lahir dari proses belajar mengajar. Foto terbaik adalah foto yang mampu membuat orang ikut merasakan cerita di balik gambar,” ujar Hendra.

Ia menambahkan, pendidikan bukan hanya soal ruang kelas, tetapi juga tentang perjuangan, harapan, dan masa depan. Karena itu, setiap karya diharapkan mampu menjadi pesan yang menginspirasi masyarakat.

Ketua Panitia Fredy Kamto mengakui waktu pelaksanaan lomba terbilang singkat. Meski demikian, pihaknya optimistis antusiasme peserta akan tinggi.

“Dari pembukaan hingga batas akhir pengumpulan karya memang hanya lima hari. Namun, melalui jaringan Asosiasi Fotografer Indonesia yang memiliki sekitar 800 anggota di berbagai daerah, kami optimistis akan lahir karya-karya terbaik,” ujar Fredy.

Untuk memberikan kesempatan yang sama kepada peserta dari seluruh Indonesia, panitia juga menerapkan kebijakan khusus terkait objek pemotretan.

“Bagi daerah yang belum memiliki Sekolah Rakyat, peserta diperbolehkan memotret aktivitas di sekolah negeri atau sekolah umum lainnya. Yang ingin kami angkat adalah semangat pendidikan, bukan semata-mata bangunan sekolahnya,” kata Fredy.

Kompetisi ini mempertandingkan empat kategori, yakni Foto Jurnalistik, Foto Human Interest, Foto Esai, dan Foto Kreatif. Seluruh karya akan dinilai berdasarkan kesesuaian tema, kekuatan cerita, orisinalitas, nilai jurnalistik, komposisi, teknik fotografi, serta dampak visual.

Lomba ini tidak dipungut biaya pendaftaran dan terbuka bagi seluruh Warga Negara Indonesia. Peserta dapat mengirimkan maksimal lima karya foto, kecuali kategori foto esai yang terdiri atas lima hingga sepuluh foto dalam satu rangkaian cerita.

Selain memperebutkan Juara I, II, dan III di setiap kategori, panitia juga akan memilih 100 karya terbaik untuk dipamerkan dalam Pameran Fotografi Nasional “Sekolah Rakyat” di Galeri Cipta I, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pameran tersebut diharapkan menjadi ruang apresiasi bagi fotografer sekaligus menghadirkan pengalaman visual mengenai wajah pendidikan Indonesia.

Pendaftaran dibuka pada 13–17 Juli 2026, dengan batas akhir pengiriman karya 17 Juli 2026 pukul 17.00 WIB. Pengumuman pemenang dijadwalkan pada 19 Juli 2026.

Melalui lomba ini, penyelenggara berharap lahir karya-karya fotografi yang mampu merekam semangat belajar, dedikasi para guru, serta harapan anak-anak Indonesia. Setiap foto diharapkan menjadi arsip visual yang tidak hanya bernilai artistik, tetapi juga merekam perjalanan perubahan pendidikan menuju Indonesia yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Jurnalis  : Kelana peterson  | kordinator : Intimate.co,id 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan