banner 728x250

Wamen Ekraf Dorong Ekonomi Restoratif, Budaya dan Kreativitas Jadi Kekuatan Masa Depan Indonesia

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA – Pengembangan ekonomi kreatif Indonesia tidak lagi hanya berbicara tentang keberlanjutan (sustainability), tetapi mulai bergerak menuju ekonomi restoratif yang mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus menjaga alam, budaya, dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, saat menjadi pembicara dalam Kunstkring Dialogue: Forum Diskusi Ekonomi Restoratif 2026 di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta, Jumat (26/6).

banner 325x300

Forum yang mengusung tema “Ekonomi ASIK: Membangun Ekonomi Restoratif Melalui Alam, Sejarah, Imajinasi, dan Kolaborasi” mempertemukan unsur pemerintah, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga komunitas lokal untuk merumuskan model pembangunan yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pemulihan lingkungan dan pelestarian budaya.

Menurut Irene, konsep ASIK mengingatkan Indonesia pada akar kekuatannya, yakni kekayaan alam dan sejarah yang menjadi identitas bangsa. Modal tersebut harus dipadukan dengan inovasi dan kolaborasi agar tetap relevan dalam menghadapi tantangan masa depan.

“‘ASIK’ mengingatkan kita kembali pada source code Indonesia, yaitu alam dan sejarah. Di situlah akar kita. Inovasi dan kolaborasi menjadi masa depan, sementara keunikan ekonomi kreatif Indonesia justru terletak pada budaya dan sejarah yang kita miliki,” ujar Irene.

Ia menegaskan bahwa ekonomi kreatif berperan sebagai jembatan yang menghubungkan praktik ekonomi restoratif dari hulu hingga hilir. Mulai dari proses produksi yang tidak bersifat eksploitatif, pengemasan yang ramah lingkungan, hingga pemasaran yang mampu membangun kesadaran konsumen melalui kekuatan storytelling.

“Ekonomi restoratif merupakan langkah lanjutan dari konsep sustainability. Seluruh rantai nilai, mulai dari produksi, pengemasan hingga pemasaran, harus saling terhubung agar mampu menghadirkan dampak yang nyata bagi masyarakat,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Business Director Conservana, Eka Maulana Nugraha Putra, menilai kerangka ASIK menjadi pendekatan yang efektif dalam membangun daerah melalui pemanfaatan potensi alam, sejarah, imajinasi, dan kolaborasi.

Menurutnya, setiap daerah di Indonesia memiliki cerita dan kekuatan yang berbeda sehingga ekonomi restoratif membuka peluang bagi lahirnya berbagai model pembangunan yang berakar pada karakter lokal.

“Eksploitasi bukan lagi menjadi jawaban. Indonesia tidak kekurangan imajinasi, tetapi membutuhkan lebih banyak kolaborasi agar mampu menciptakan nilai sekaligus menjaga sumber nilai tersebut tetap hidup,” ujarnya.

Forum ini juga menghadirkan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, bersama sejumlah tokoh lainnya, antara lain Michella Irawan (Collabits), Hulda Nenogasu (Bamboo Coop), Singgih S. Kartono (Spedagi dan Pasar Papringan), serta Aiya Lee (Kagaounga Popeda).

Diskusi tersebut menegaskan bahwa masa depan ekonomi Indonesia tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan, melainkan juga pada kemampuan memulihkan alam, melestarikan budaya, serta membangun kolaborasi yang memberi manfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan.

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan