Fadli Zon : Dalang Cilik Jadi Benteng Budaya Bangsa di Tengah Arus Globalisasi

Intimate.co.id|JAKARTA – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut dalang-dalang cilik sebagai aset penting bangsa dalam menjaga keberlangsungan seni pewayangan. Kehadiran generasi muda yang menekuni seni pedalangan dinilai menjadi benteng pertahanan budaya Indonesia di tengah derasnya arus globalisasi.

Hal itu disampaikan Fadli Zon saat menghadiri Malam Grand Final Festival Dalang Anak (FDA) ke-19 di Gedung Pewayangan Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Menurut Fadli, regenerasi dalang menjadi kunci agar tradisi pewayangan tidak sekadar menjadi warisan masa lalu, tetapi tetap hidup, berkembang, dan relevan dengan perkembangan zaman.

“Dalang adalah pusat pengendali dari pementasan wayang. Penting agar anak-anak mengenal dan melanjutkan tradisi pedalangan, menjaga ilmu pengetahuan dan kearifan dalam lakon pewayangan sebagai refleksi kehidupan, sekaligus mengembangkan seni pewayangan dengan inovasi dan kreativitas agar terus hidup di tengah perubahan zaman,” ujar Fadli.

Festival Dalang Anak ke-19 berlangsung pada 2–4 November 2026. Ajang nasional yang diselenggarakan Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) sejak 2008 ini diikuti 29 dalang cilik berusia 8–14 tahun dari 22 provinsi.

Mereka merupakan peserta terbaik yang berhasil melewati proses seleksi dari perwakilan 516 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Kehadiran para peserta menjadi gambaran tumbuhnya minat generasi muda terhadap seni pedalangan sekaligus upaya menyiapkan penerus tradisi pewayangan.

Fadli mengapresiasi PEPADI, dewan juri, serta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan festival tersebut. Ia menilai FDA memiliki peran strategis dalam menggerakkan ekosistem pewayangan dan memastikan proses pewarisan budaya berlangsung secara berkelanjutan.

Ia juga mengingatkan bahwa wayang telah memperoleh pengakuan UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 2003, sebelum ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2008. Pengakuan tersebut menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab Indonesia untuk terus menjaga kelestariannya.

Bagi Fadli, peran dalang jauh melampaui tugas mengendalikan pertunjukan. Dalang juga menjadi guru yang menyampaikan tuntunan, nilai kehidupan, dan pencerahan melalui lakon pewayangan. Sementara itu, iringan gamelan menghadirkan harmoni yang merepresentasikan irama kehidupan.

Karena itu, Kementerian Kebudayaan berkomitmen mendukung pengembangan seni pedalangan melalui kolaborasi dengan PEPADI, Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI), serta komunitas pewayangan di berbagai daerah.

Fadli juga mendorong pemanfaatan teknologi untuk memperluas jangkauan pertunjukan wayang. Pementasan berbahasa Jawa maupun Sunda, misalnya, dapat dilengkapi teks terjemahan bahasa Indonesia dan Inggris. Pertunjukan juga bisa disiarkan secara daring agar menjangkau penonton lebih luas, termasuk audiens internasional.

“Semoga melalui kolaborasi, wayang yang sudah menjadi warisan budaya takbenda dunia ini semakin dikenal dunia lewat kreasi dan terobosan baru,” katanya.

Malam Grand Final Festival Dalang Anak 2026 turut dihadiri Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, Ketua Umum PEPADI Tumiyono, Pangdam Jayakarta Deddy Suryadi, Ketua Umum SENAWANGI Bambang Sulistyo, jajaran dewan juri, serta sejumlah tokoh seni dan budaya.

Melalui Festival Dalang Anak, pemerintah berharap semakin banyak generasi muda yang tumbuh menjadi dalang profesional hingga maestro. Regenerasi tersebut diharapkan tidak hanya menjaga keberlangsungan tradisi pedalangan, tetapi juga memperkuat identitas dan ketahanan budaya Indonesia di tengah perubahan dunia.[*]Sumber Kemenbud RI

Pewarta : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

Tinggalkan Balasan