Andien Ubah Royalti “Percaya” Jadi Harapan Pendidikan, Sekolah Gratis Kini Punya Lima Cabang

Intimate.co.id|JAKARTA – Sebuah lagu tak hanya dapat menyentuh hati pendengarnya, tetapi juga membuka jalan bagi masa depan anak-anak. Penyanyi Andien Aisyah membuktikannya melalui lagu “Percaya”, yang royalti aset digitalnya menjadi modal awal pendirian Sekolah Anak Percaya.

Berawal dari inisiatif sosial pada masa pandemi COVID-19, gerakan pendidikan gratis tersebut terus berkembang. Kini, Sekolah Anak Percaya memasuki babak baru dengan membuka cabang kelima di Kampung Apung, Jakarta, sebuah kawasan yang masih menghadapi berbagai persoalan akses pendidikan.

Andien mengungkapkan, gagasan mendirikan sekolah tersebut bermula dari keputusannya menjual royalti lagu “Percaya” melalui skema non-fungible token (NFT). Dana yang diperoleh dari transaksi aset digital itu kemudian dimanfaatkan sebagai modal untuk membangun sekolah bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan akses pendidikan.

“Waktu itu lagi zaman COVID, terus saya menjual lagu ini royaltinya dengan skema non-fungible token (NFT). Hasil dari NFT tersebut kemudian kami jadikan modal untuk membangun Sekolah Anak Percaya,” kata Andien.

NFT merupakan aset digital yang kepemilikan atau transaksinya tercatat dalam jaringan blockchain. Dalam konteks karya musik, skema ini dapat menjadi alternatif pemanfaatan nilai ekonomi karya kreatif, sesuai dengan ketentuan transaksi dan platform yang digunakan.

Bagi Andien, pemanfaatan royalti tersebut menjadi lebih dari sekadar urusan ekonomi kreatif. Hasil dari sebuah karya musik menjadi pijakan untuk membangun ruang belajar bagi anak-anak yang membutuhkan kesempatan lebih luas untuk mengenyam pendidikan.

Sekolah Anak Percaya pertama kali didirikan pada 2022 di Kampung Pemulung, Pondok Kopi, Jakarta Timur. Sejak itu, gerakan tersebut terus berupaya memperluas jangkauan agar semakin banyak anak dapat memperoleh akses belajar secara gratis.

Pendekatan Setahun untuk Membangun Kepercayaan

Pembukaan cabang kelima di Kampung Apung bukanlah proses yang berlangsung dalam semalam. Di kawasan yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai pengupas kerang itu, tim Sekolah Anak Percaya harus membangun hubungan dan kepercayaan dengan warga sebelum kegiatan belajar mengajar dapat dimulai.

Andien mengatakan, pendekatan kepada masyarakat telah dilakukan selama sekitar satu tahun, sejak Oktober tahun sebelumnya.

“Dari tahun lalu itu PDKT-nya setahun untuk kita bisa menyelenggarakan proses belajar mengajar di kampung tersebut,” tuturnya.

Keputusan hadir di Kampung Apung berangkat dari keprihatinan terhadap tingginya angka anak putus sekolah. Menurut Andien, persoalan pendidikan di kawasan tersebut tidak sesederhana kemauan seorang anak untuk belajar.

Ada persoalan sosial dan administratif yang saling berkaitan, termasuk kendala administrasi kependudukan. Situasi itu dapat mempersulit anak-anak untuk mengakses pendidikan, sekaligus membuat upaya penanganannya membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh.

“Masalahnya sangat berlapis, bukan hanya keinginan anak mengenyam pendidikannya saja, tapi juga ada banyak masalah mengenai misalnya administrasi kependudukan dan lain-lain,” jelasnya.

Kompleksitas persoalan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pihak-pihak yang ingin membantu. Namun, bagi Andien, keadaan itu justru memperkuat alasan untuk hadir dan mencari jalan keluar bersama masyarakat.

Pendidikan sebagai Gerakan Bersama

Andien memilih untuk tidak berhenti pada upaya memberikan bantuan. Ia ingin membangun proses yang memungkinkan anak-anak tetap memiliki kesempatan belajar, sekalipun mereka tumbuh di tengah keterbatasan sosial dan administrasi.

Baginya, ketika solusi belum tersedia, langkah yang perlu dilakukan adalah mulai mencari jalan keluar bersama warga, bukan membiarkan persoalan terus berlarut.

“Ya udah kalau memang belum ada solusinya, justru aku yang ingin jadi solusinya. Yuk kita cari solusinya bareng,” ujarnya.

Perjalanan Sekolah Anak Percaya memperlihatkan bagaimana sebuah karya musik dapat memiliki makna yang melampaui panggung hiburan. Royalti lagu “Percaya” menjadi modal awal bagi gerakan pendidikan yang terus bertumbuh, dari Kampung Pemulung di Jakarta Timur hingga Kampung Apung.

Di tengah persoalan akses pendidikan yang berlapis, langkah Andien menegaskan satu hal: kreativitas dapat menjadi pintu masuk bagi perubahan sosial, sementara keberlanjutan perubahan itu membutuhkan keterlibatan dan kepercayaan masyarakat.[**]Foto : Istimewa

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

Tinggalkan Balasan