banner 728x250

35 Tahun Berselang, Teater Koma Bangkitkan Kembali Rumah Sakit Jiwa yang Kian Relevan di Era Digital

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA – Setelah 35 tahun berlalu sejak pertama kali dipentaskan, Teater Koma kembali menghadirkan lakon legendaris Rumah Sakit Jiwa. Diproduksi bersama Bakti Budaya Djarum Foundation, pementasan ini tidak sekadar membangkitkan nostalgia, tetapi juga mengajak publik menatap persoalan yang kian dekat dengan kehidupan masa kini, mulai dari kesehatan mental, tekanan sosial, hingga derasnya arus informasi digital.

Lakon karya N. Riantiarno yang menjadi produksi ke-237 Teater Koma itu akan dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026.

banner 325x300

Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation Billy Gamaliel menilai, di tengah menjamurnya hiburan digital, teater tetap memiliki daya tarik yang tak tergantikan. Interaksi langsung antara pemain dan penonton menghadirkan pengalaman emosional yang tidak dapat diperoleh melalui layar.

“Ketika penonton hadir langsung di teater, mereka tidak hanya menyaksikan cerita, tetapi ikut mengalami emosi yang dibangun para pemain. Pengalaman seperti itu tidak bisa digantikan oleh tontonan digital,” ujar Billy dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Menurut Billy, teater juga menjadi ruang penting untuk merawat kebudayaan. Unsur musik, tekstil, tata busana, seni pertunjukan, hingga kebiasaan sosial masyarakat Indonesia diolah menjadi karya yang tetap relevan bagi generasi sekarang. Karena itu, Bakti Budaya Djarum Foundation terus mendukung pertunjukan yang bukan hanya kuat secara artistik, tetapi juga memiliki daya refleksi terhadap realitas sosial.

Sutradara Rangga Riantiarno mengatakan, keputusan menghidupkan kembali Rumah Sakit Jiwa didasari keyakinan bahwa pesan yang dibawa naskah tersebut justru semakin relevan dibanding saat pertama kali dipentaskan pada 1991.

Kala itu internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kini masyarakat hidup di tengah media sosial, banjir informasi, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang ikut membentuk cara manusia berpikir dan berinteraksi.

“Dulu belum ada internet, sekarang kita hidup di tengah media sosial, banjir informasi, bahkan kecerdasan buatan. Tekanan terhadap kondisi psikologis manusia justru terasa semakin besar. Karena itu, naskah ini terasa semakin dekat dengan kehidupan hari ini,” kata Rangga.

Untuk menghadirkan karakter yang kuat, para pemain menjalani proses riset yang mendalam. Mereka tidak hanya berlatih di ruang teater, tetapi juga melakukan observasi ke rumah sakit jiwa, berdiskusi dengan psikolog klinis dan psikiater, serta mempelajari latar belakang psikologis setiap tokoh.

Menurut Rangga, metode observasi tersebut merupakan tradisi Teater Koma yang terus dipertahankan sebagai bagian dari proses regenerasi. Bagi Teater Koma, regenerasi bukan hanya menghadirkan pemain baru, melainkan juga mewariskan cara bekerja dan kedalaman dalam membangun karakter.

Produksi kali ini juga menghadirkan sentuhan baru pada aspek artistik. Perancang busana Samuel Wattimena bersama Rima Ananda merancang kostum yang tidak hanya menunjukkan identitas profesi setiap tokoh, tetapi juga merefleksikan perkembangan psikologis mereka sepanjang cerita. Sementara tata musik garapan Fero A. Stefanus disiapkan untuk memperkuat atmosfer sekaligus perjalanan emosional setiap adegan.

Pendiri Teater Koma, Ratna Riantiarno, kembali memerankan tokoh Ibu dr. Rogusta yang pernah ia bawakan 35 tahun lalu. Pengalaman hidup, menurutnya, membuat ia menemukan dimensi baru dari karakter tersebut.

“Naskahnya tetap sama, tetapi pengalaman hidup membuat saya melihat Rogusta dengan cara yang berbeda. Saya menemukan banyak lapisan baru dalam karakter itu,” ujarnya.

Dalam kisahnya, Rumah Sakit Jiwa mengikuti perjuangan dr. Rogusta, seorang dokter muda yang berusaha mengubah sistem pelayanan di sebuah rumah sakit jiwa melalui pendekatan yang lebih manusiawi. Upaya itu justru memicu benturan dengan sistem lama dan pihak-pihak yang merasa kepentingannya terusik.

Melalui cerita tersebut, Teater Koma mengajak penonton merenungkan satu pertanyaan yang terasa semakin relevan di era modern: jangan-jangan dunia yang kita jalani hari ini perlahan berubah menjadi sebuah “rumah sakit jiwa”, ketika tekanan sosial, relasi kuasa, dan persoalan kemanusiaan semakin kompleks.

Pementasan berlangsung pada 30 dan 31 Juli pukul 19.30 WIB. Pada Sabtu, 1 Agustus, pertunjukan digelar pukul 13.30 WIB dan 19.30 WIB, sedangkan Minggu, 2 Agustus, hanya berlangsung pukul 13.30 WIB. Tiket dijual dengan harga mulai Rp100.000 hingga Rp850.000.

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor ; Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan