Intimate.co.id|JAKARTA— Bagaimana jadinya jika Donald Trump, Vladimir Putin, Benjamin Netanyahu, Elon Musk, dan Jack Ma berkumpul di sebuah tempat bernama Kandang Ayam di Jakarta? Jangan buru-buru membayangkan pertemuan diplomatik tingkat tinggi. Bisa jadi, yang dibicarakan justru nasi uduk, durian montong, hingga swikee Purwodadi.
Begitulah kira-kira obrolan nyeleneh yang mengalir ketika promotor musik era 1980-an, Sofyan Ali, menyambangi PSF Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (25/10/2026). Kedatangannya untuk menonton sepak bola sekaligus melepas kangen dengan mBah Coco, sosok yang menjadi teman berbincang dalam kisah penuh kelakar tersebut.
“Waduh, kemane aje, Bang?” sapa mBah Coco.
“Ane lagi pengin ngajak ente bikin acara. Undang semua tokoh dunia!” jawab Sofyan.
Obrolan yang semula berlangsung santai itu segera meluas ke panggung dunia. Elon Musk, Jack Ma, Mark Zuckerberg, Donald Trump, hingga Benjamin Netanyahu masuk dalam daftar nama yang mereka bayangkan bakal meramaikan Jakarta.
“Emang mereka mau disuruh ngapain, Bang?” tanya mBah Coco.
Alih-alih membahas ekonomi global, teknologi kecerdasan buatan, atau ketegangan geopolitik, percakapan justru berbelok ke urusan kuliner dan tempat nongkrong.
mBah Coco mengaku sempat berkirim pesan dengan Netanyahu, yang dalam guyonannya disebut ingin mencicipi durian montong di Mangga Besar.
Sementara itu, Sofyan mengusulkan agar Vladimir Putin diajak mencicipi swikee Purwodadi. Bagi Sofyan, yang dikenal sebagai promotor konser Kantata Taqwa di Senayan pada 1990, mendatangkan tokoh besar seolah tak lebih rumit daripada menyusun daftar tamu sebuah pertunjukan.
Belum selesai urusan Putin, Donald Trump ikut masuk dalam percakapan.
“Ini barusan, Donald Trump minta dianter makan malam di Nasi Uduk Kebon Kacang, Bang,” kata mBah Coco.
“Kalau gitu, suruh jemput Jokowi. Doi kan udah akrab,” sahut Sofyan.
Di tangan keduanya, Jakarta seolah menjadi panggung pertemuan dunia yang tak mengenal sekat protokol. Pemimpin negara, pengusaha teknologi, kuliner kaki lima, dan obrolan khas Betawi bertemu dalam satu rangkaian cerita.
Bahkan, Taman Lawang ikut disebut ketika mBah Coco melontarkan kelakar mengenai rasa penasaran Trump terhadap kehidupan malam Jakarta. Nama Uud Asalgobleg pun muncul sebagai bagian dari guyonan mereka.
Lalu, siapa saja yang bakal meramaikan Kandang Ayam?
“Trump, Putin, Netanyahu, ame Elon Musk. Kalau Jack Ma, katanya mau bawa cemilan keripik babi, plus Congyang, Bang!” ujar mBah Coco.
Sofyan masih merasa ada yang kurang. Ia pun mengusulkan agar Toto Tewel ikut menghibur para tamu, ditemani minuman Singaraja.
“Kalau bisa, si Toto Tewel suruh menghibur mereka, sambil minum Singaraja,” celetuknya.
Tentu saja, percakapan itu lebih tepat dibaca sebagai humor dan imajinasi pergaulan, bukan agenda kunjungan resmi para tokoh dunia. Namun, justru di situlah daya tariknya: hal-hal besar bisa menjadi bahan tertawaan ketika dibicarakan dari sudut pandang keseharian warga Jakarta.
Di PSF Pancoran, sepak bola menjadi pintu masuk menuju cerita yang melompat jauh, dari lapangan hijau ke politik dunia, lalu mendarat kembali di meja makan dan tempat nongkrong.
Tak ada podium, tak ada pidato kenegaraan. Hanya Sofyan Ali, mBah Coco, dan imajinasi yang membawa tokoh-tokoh dunia ke sebuah tempat bernama Kandang Ayam.
Di akhir percakapan, Sofyan menutupnya dengan kalimat pendek yang justru mengundang tanda tanya.
“Ya sudah, aku rela!”
Rela untuk apa? Barangkali itulah bagian yang sengaja dibiarkan menggantung. Sebab, dalam dunia humor, tak semua pertanyaan harus dijawab. Kadang-kadang, yang paling menarik justru membiarkan pembaca ikut membayangkan siapa yang bakal datang ke Kandang Ayam.[**]
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id












