Intimate.co | Palembang, – Kabut asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi dibeberapa wilayah Indonesia merupakan kejadian kebakaran terburuk sepanjang 11 tahun terakhir . Hal ini diperparah dengan dengan adanya fenomena El Nino yang dapat meningkatkan risiko kebakaran dan kabut asap memperburuk kualitas udara dibanyak daerah .
Beberapa tiitk polutan berada pada daerah Sumatera Bagian Selatan, Sumatera Bagian Utara, Jambi , Riau , Kalimantan Barat , Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan sudah merambah ke wilayah Jakarta serta Papua. Berdasarkan pemantauan kualitas udara dan data Indeks Standar Pencemar Udara ( ISPU) serta konsentrasi berada di PM 2,5 per Oktober 2026 . Besaran polutan pun bervariasi diberbagai daerah tersebut yaitu dikisaran 200 μg/m3 sampai dengan 1500 μg/m3 dan sempat melampui 7500 μg/m3 – 12.000 μg/m3 di wilayah Kalimantan, Sumatera dan Papua ( Riset BRIN,2026).
Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Lingkungan Republik Indonesia No P.14 /MENLHK/SETJEN/KUM.1/7/2020 tentang Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) , kategori kualitas udara yang terjadi saat ini adalah dalam kategori sangat tidak sehat dan cenderung berbahaya. Dampak kabut asap ini akan sangat signifikan berdampak pada kelompok rentan yaitu bayi, balita, anak – anak, lansia, ibu hamil dan orang dengan riwayat penyakit jantung paru serta pekerja yang berada di luar ruangan.
Bagaimana pemerintah menyikapi hal ini, tentu kita pertanyakan sejauh mana pergerakan pencegahan kebakaran lahan dan hutan yang terjadi juga penanganan kesehatan bagi masyarakat yang berdampak. Belajar dari pandemi covid, beberapa strategi pencegahan dan penyebaran dilakukan secara global . Walaupun pada kabut asap ini tidak semua daerah mengalami nya. Perlukah meminta bantuan dari negara lain? ,mengapa tidak…Apalagi kabut asap ini telah merambah ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Kerjasama bilateral yang telah dijalin dapat dimanfaatkan dalam keadaan nasional seperti saat ini.
Dampak buruk yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan strategis penanganan karhutla ini adalah perbaikan kondisi kesehatan masyarakat yang terdampak dan pencegahan pada masyarakat yang saat ini masih bertahan dengan kesehatannya.
Beberapa fasilitas kesehatan telah banyak menerima pasien dengan status masalah pernapasan, seperti ISPA, asma, dan bronkopneumonia. Obat obatan untuk pengobatan saluran pernapasan hendaknya di suplai dengan cukup dari pemerintah. Pemberian Edukasi pencegahan penyakit saluran pernapasan juga hendaknya di tingkatkan . Kunjungan rumah bagi lansia yang masih membutuhkan pengobatan rutin akibat penyakit nya dapat membantu lansia agar tidak keluar rumah . Penggunaan masker dengan biaya yang terjangkau dan gratis untuk masyarakat dapat menjadi upaya pemerintah dalam dukungan dampak buruk asap bagi masyarakat.
Puskesmas dan posyandu agar dapat berperan aktif dengan pemberian makanan bergizi bagi bayi ,anak dan lansia sehingga mereka memiliki daya tahan tubuh yang baik. Sekolah yang masih memiliki siswa dengan kategori usia rentan seperti SD dan SMP dapat melanjutkan Pembelajaran Jarak Jauh tanpa mengurangi kualitas pembelajaran dan kurikulum yang berlaku.
Hal ini tentunya diharapkan dapat mencegah komplikasi gangguan saluran nafas antara lain ISPA, Asma Kronik , PPOK, Bronkitis , Pneumonia dan yang lebih berat dari residu yang terhisap adalah kanker paru serta emfisema akibat kabut asap karhutla yang sudah terjadi dalam jangka waktu lama.
Kerjasama dan kolaborasi semua pihak serta dukungan pemerintah terutama dinas terkait dapat konsisten melakukan implementasi pencegahan dampak buruk akibat asap karhutla dan mengurangi beban masyarakat yang berdampak akibat asap.
Pada akhirnya kita semua berharap semoga bencana kabut asap karhutla dapat segera diatasi dan semua masyarakat dapat menghirup udara segar kembali.
Ditulis oleh : Restu Paminta Dewi












