Intimate.co.id|JAKARTA– Keributan yang melibatkan pemain Bina Taruna dan Farama seusai pertandingan Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2026, Sabtu (7/11), di area parkir Lapangan PSF Pancoran, Jakarta Selatan, menyisakan catatan serius bagi dunia pembinaan sepak bola usia muda.
Insiden yang terjadi setelah pertandingan berakhir itu mengundang perhatian dua mantan pemain Timnas Indonesia, Tias Tano Taufik dan Maman Suryaman. Keduanya menyampaikan pesan tegas kepada para pelatih, ofisial, dan pengelola klub agar tidak menjadikan kemenangan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan pembinaan.
Bagi mereka, sepak bola usia muda memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar. Di balik kompetisi, ada proses membentuk karakter, kedisiplinan, kedewasaan, serta kemampuan menghormati sesama pemain.
Tias Tano Taufik menyayangkan insiden tersebut. Terlebih, keributan justru terjadi setelah pertandingan selesai dan para pemain sudah meninggalkan lapangan, kemudian berlanjut di area parkir.
Menurut Tias, perilaku semacam itu bertolak belakang dengan semangat pembinaan yang seharusnya menjadi fondasi kompetisi kelompok usia muda.
Ia berharap kejadian tersebut menjadi evaluasi bagi seluruh peserta Liga Jakarta U-17. Pemain yang terlibat juga harus mendapatkan evaluasi dan pembinaan serius. Bahkan, ia menegaskan tidak menginginkan pemain dengan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai pembinaan terus berada dalam lingkungan kompetisi tanpa adanya perubahan sikap.
“Sepak bola bukan hanya soal bermain dan memenangkan pertandingan. Di dalamnya ada sportivitas, rasa saling menghormati, dan persaudaraan. Nilai-nilai itu harus dijunjung tinggi, baik di dalam maupun di luar lapangan,” ujar Tias saat dimintai tanggapannya di Lapangan PSF Pancoran, Minggu (8/11).
Ia juga mengingatkan bahwa tugas pelatih tidak berhenti pada penguasaan teknik, taktik, dan strategi. Pendidikan karakter harus berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan bermain.
Maman: Emosi Pemain Harus Menjadi Perhatian Pelatih
Pandangan senada disampaikan mantan pemain Timnas Indonesia, Maman Suryaman. Menurutnya, kompetisi sepak bola usia muda semestinya menjadi tempat membangun persahabatan, bukan justru melahirkan permusuhan antarpemain.
Maman memahami bahwa atmosfer pertandingan kerap menghadirkan emosi dan tensi persaingan. Namun, seorang pemain harus mampu menempatkan emosi secara proporsional. Persaingan selama pertandingan tidak boleh merusak hubungan persaudaraan setelah peluit panjang dibunyikan.
Persoalan yang terbawa hingga ke luar lapangan, menurut dia, menjadi sinyal bahwa pembinaan karakter perlu mendapatkan perhatian lebih serius dari masing-masing klub.
Maman yang juga memiliki pengalaman sebagai pelatih menekankan pentingnya pendekatan personal terhadap pemain yang memiliki kecenderungan sulit mengendalikan emosi.
Menurutnya, pembinaan tidak cukup dilakukan melalui teguran sesaat. Pelatih harus membangun komunikasi secara konsisten, memanggil pemain untuk berdialog, serta memberikan edukasi agar mereka memahami konsekuensi dari setiap tindakan.
“Kalau ada pemain yang temperamennya tinggi, itu menjadi tantangan pelatih. Harus sering diajak komunikasi, dipanggil, dan diberikan edukasi. Jangan sampai perilaku buruknya terus terbawa setiap kali bermain,” pesan Maman.
Ia meyakini karakter pemain muda masih dapat dibentuk melalui proses pembinaan yang berkelanjutan. Mereka perlu diarahkan agar mampu mengendalikan emosi, menghormati lawan, menerima keputusan wasit, dan memahami esensi sepak bola sebagai olahraga yang menjunjung tinggi persaudaraan.
Wasit dan Panitia Memiliki Ranah Penanganan Berbeda
Sementara itu, Koordinator Wasit Rudiansyah menjelaskan bahwa insiden yang terjadi setelah pertandingan dan berada di luar lapangan memiliki ranah penanganan berbeda dengan peristiwa selama pertandingan berlangsung.
Menurutnya, kewenangan wasit berada pada peristiwa yang terjadi dalam pertandingan. Adapun kejadian di luar lapangan perlu dilaporkan kepada panitia penyelenggara untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan kompetisi.
Penjelasan tersebut menegaskan pentingnya koordinasi antara perangkat pertandingan, panitia, klub, pelatih, dan ofisial dalam menjaga keamanan serta ketertiban kompetisi.
Jangan Biarkan Sepak Bola Kehilangan Ruh Pembinaan
Insiden Bina Taruna dan Farama seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama. Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2026 bukan sekadar panggung untuk membuktikan siapa yang paling kuat atau siapa yang mampu mengangkat trofi.
Kompetisi ini juga menjadi bagian dari proses menyiapkan generasi pesepak bola masa depan. Karena itu, keberhasilan pembinaan tidak cukup diukur dari jumlah gol, kemenangan, ataupun prestasi sebuah klub.
Ada nilai yang jauh lebih mendasar: bagaimana seorang pemain menghormati lawan, menerima kekalahan, mengendalikan emosi, serta tetap menjalin persaudaraan setelah pertandingan.
Sebab, pemain muda yang tengah ditempa hari ini bukan hanya dipersiapkan menjadi pesepak bola profesional. Mereka juga sedang belajar menjadi pribadi yang dewasa, disiplin, dan menjunjung tinggi sportivitas.
Pada akhirnya, kualitas seorang pemain tidak hanya terlihat ketika menguasai bola, mencetak gol, atau memenangkan pertandingan. Karakter sesungguhnya justru diuji ketika pertandingan telah berakhir.[]Foto : IssonChaerul
Pewarta : DaBon|Editor,: Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id












