Intimate.co.id|JAKARTA – Persoalan klasik pembinaan sepak bola usia muda kembali mencuat di Liga Soeratin Jakarta U-15 Piala Gubernur 2026. Benturan jadwal sekolah dan kompetisi membuat Real Jakarta kehilangan sejumlah pemain inti hingga akhirnya menyerah 0-3 dari Toyo Haryono pada pekan ke-10 di Lapangan Sintetis 2 Pancoran Soccer Field (PSF), Jakarta Selatan, Minggu (18/10/2026).
Kekalahan tersebut bukan semata-mata soal perbedaan kualitas di lapangan. Real Jakarta juga harus menghadapi keterbatasan komposisi pemain akibat sejumlah pemain absen karena kegiatan sekolah, kompetisi lain, cedera, dan sakit.
Dalam situasi tersebut, Toyo Haryono lebih leluasa mengendalikan permainan dan menekan pertahanan lawan. Meski demikian, para pemain Real Jakarta tetap berusaha bertahan dan meladeni tekanan hingga pertandingan berakhir.
Toyo Haryono membuka keunggulan ketika laga baru berjalan lima menit. M. Riffat melepaskan tendangan mendatar ke sudut kiri gawang yang gagal dijangkau penjaga gawang Real Jakarta.
Gol cepat itu membuat Toyo Haryono semakin percaya diri. Pada menit ke-20, keunggulan bertambah menjadi 2-0 melalui Messi yang menyambar bola hasil tendangan sudut.
Memasuki babak kedua, Toyo Haryono tak mengendurkan tekanan. Raihan memperbesar keunggulan menjadi 3-0 pada menit ke-35 setelah menuntaskan umpan matang dari sisi kiri. Skor tersebut bertahan hingga peluit akhir.
Pembinaan Terbentur Agenda Sekolah
Pelatih Real Jakarta, Darius, mengakui keterbatasan pemain menjadi persoalan yang terus berulang. Kondisi tersebut menyulitkan tim pelatih menjaga konsistensi latihan sekaligus menurunkan komposisi terbaik dalam pertandingan resmi.
“Problem kami masih sama. Anak-anak masih disibukkan dengan urusan sekolah. Untuk latihan pun, siapa yang bisa hadir, ya hadir. Belum lagi banyak pemain inti yang tidak bisa merumput di Liga Soeratin,” ungkap Darius.
Absennya pemain inti membuat Real Jakarta kehilangan pilihan untuk melakukan rotasi. Situasi ini juga memperlihatkan tantangan yang dihadapi tim pembinaan usia muda: menjaga keseimbangan antara pendidikan formal, latihan rutin, dan tuntutan kompetisi.
Bagi pemain usia sekolah, pendidikan tentu tetap menjadi prioritas. Namun, tanpa pengaturan jadwal dan komunikasi yang baik antara sekolah, klub, serta penyelenggara kompetisi, kesinambungan pembinaan berpotensi terganggu.
Darius tetap mengapresiasi semangat anak asuhnya yang berusaha memberikan perlawanan di tengah keterbatasan. Baginya, hasil pertandingan memang belum memuaskan, tetapi daya juang pemain menjadi modal untuk terus memperbaiki tim.
Menang Tiga Gol, Toyo Haryono Belum Puas.
Di kubu Toyo Haryono, kemenangan tiga gol tanpa balas tidak lantas dianggap sebagai penampilan sempurna. Pelatih mereka menilai permainan kolektif tim masih perlu dibenahi, terutama dalam membangun serangan dan memaksimalkan peluang.
Toyo Haryono mengandalkan formasi 4-4-2 yang semestinya memberi ruang untuk memanfaatkan lebar lapangan dan membangun serangan melalui kedua sisi. Namun, para pemain dinilai masih terlalu sering mengandalkan kemampuan individu sehingga aliran bola belum berjalan sesuai instruksi.
“Kami bermain dengan pola 4-4-2 yang seharusnya bisa memanfaatkan lebar lapangan,” ucapnya.
Evaluasi itu menjadi penting agar Toyo Haryono tidak hanya mengandalkan keunggulan individu atau kondisi lawan, tetapi juga mampu memperlihatkan permainan kolektif yang lebih matang.
Kemenangan atas Real Jakarta menjadi tambahan modal positif. Meski demikian, efektivitas penyelesaian akhir, kerja sama antarpemain, dan pemanfaatan ruang tetap menjadi pekerjaan rumah menjelang pertandingan berikutnya.

Lebih dari Sekadar Hasil Pertandingan
Laga pekan ke-10 ini menghadirkan dua persoalan berbeda. Real Jakarta harus mencari jalan keluar atas keterbatasan pemain akibat padatnya agenda sekolah dan kompetisi, sementara Toyo Haryono dituntut meningkatkan kualitas permainan kolektif.
Dalam kompetisi usia muda, skor akhir memang penting, tetapi proses pembinaan tidak boleh berhenti pada hasil pertandingan. Ketersediaan pemain, kesinambungan latihan, dan kesempatan bertanding merupakan bagian dari ekosistem yang menentukan perkembangan pesepak bola muda.
Tantangannya bukan sekadar mencetak kemenangan, melainkan memastikan para pemain tetap memperoleh ruang untuk belajar, berkembang, dan berkompetisi tanpa mengabaikan tanggung jawab pendidikan mereka.[**]Foto : Prass
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id












