Intimate.co.id|BOGOR -|Di sebuah teras di bilangan Parung, Bogor, Kamis (23/9), percakapan tentang Indonesia berlangsung tanpa gegap gempita. Tidak ada panggung besar, sorotan lampu, atau seremoni yang berjarak. Yang ada adalah ruang terbuka, percakapan, dan kegelisahan yang sama: bagaimana kebudayaan dapat terus menjadi perekat bangsa di tengah Indonesia yang semakin beragam.
Di Rumah Teras Kebinekaan itu, Moh. Shofan, penggagas Teras Kebinekaan, bertemu Erwiyantoro, atau yang akrab disapa Mbah Coco, Owner RadioBola. Keduanya bersilaturahmi sekaligus bertukar gagasan tentang masa depan kebudayaan Indonesia.
Percakapan mereka berangkat dari satu kesadaran sederhana. Masa depan Indonesia tidak hanya dibangun dengan teknologi, pertumbuhan ekonomi, atau infrastruktur fisik. Ada infrastruktur lain yang tidak kasatmata, tetapi menentukan apakah sebuah bangsa mampu tetap berjalan bersama: kebudayaan.
Bagi Shofan, kebinekaan bukan sekadar kenyataan demografis bahwa Indonesia dihuni ratusan suku, bahasa, agama, dan tradisi. Kebinekaan adalah fondasi moral yang memungkinkan perbedaan itu hidup dalam satu ruang kebangsaan.
“Kebinekaan harus menjadi infrastruktur moral. Walaupun berbeda keyakinan, suku, budaya dan bahasa, kita berada di bawah payung kultural yang sama, yaitu bangsa Indonesia,” ujar Shofan, penulis buku Rhoma Irama: Politik Dakwah Dalam Nada, yang diterbitkan Imania pada 2014.
Dari sudut pandang itu, kebudayaan tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Ia justru menjadi bahasa yang memungkinkan masyarakat yang berbeda saling mengenali.
Bahasa, musik, seni, sastra, tradisi, dan kearifan lokal adalah pintu-pintu kecil yang dapat membawa orang memasuki ruang kebersamaan. Melalui pintu-pintu itu pula percakapan antargenerasi dan antarkelompok dapat terus berlangsung.
“Budaya itu lentur. Strategi kebudayaan adalah salah satu jalan yang sangat mungkin untuk terkoneksi dengan anak-anak bangsa yang tersebar di seluruh Nusantara,” kata Shofan.
Teras sebagai Ruang Bertemu
Nama Teras Kebinekaan sendiri berangkat dari gagasan yang sederhana: teras adalah ruang untuk bertemu.
Di teras, seseorang dapat datang tanpa harus terlebih dahulu menjelaskan dari kelompok mana ia berasal. Orang bisa duduk, berbicara, mendengarkan, atau sekadar menikmati percakapan. Ia bukan ruang eksklusif yang dibangun untuk memisahkan, melainkan ruang antara tempat orang-orang yang berbeda dapat saling berjumpa.
Filosofi itulah yang hendak dibawa menjadi dasar gerakan kebudayaan Teras Kebinekaan.
Shofan melihat perjalanan kebudayaan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kearifan lokal yang tumbuh jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara. Nilai-nilai yang diwariskan para leluhur, dalam berbagai bentuk dan bahasa, merupakan bagian dari pengalaman panjang masyarakat Nusantara dalam membangun kehidupan bersama.
Nilai-nilai itu tidak harus berhenti menjadi artefak.
Di tengah kehidupan modern, ia dapat menemukan bentuk baru. Tradisi dapat berdialog dengan teknologi. Musik tradisional dapat bertemu musik kontemporer. Sastra dapat menjadi ruang percakapan generasi muda. Kesenian daerah dapat diperkenalkan melalui medium digital dan menjangkau penonton yang lebih luas.
Karena itu, Teras Kebinekaan dibayangkan bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan sebuah ruang yang memungkinkan berbagai gagasan kebudayaan tumbuh.
Forum pemikiran, pertunjukan seni, festival Nusantara, hingga ruang kreatif bagi generasi muda dapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Sebuah teras, dengan demikian, dapat menjadi titik awal dari percakapan yang jauh lebih besar.
Ketika Kebudayaan Menjadi Gerakan
Mbah Coco melihat potensi lain dari gagasan tersebut.
Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Setiap daerah mempunyai cerita, kesenian, tradisi, tokoh, komunitas, dan cara pandang yang khas. Namun kekayaan itu membutuhkan ruang yang memungkinkan satu potensi berjumpa dengan potensi lainnya.
Pertemuan antardaerah, menurut dia, penting agar kebudayaan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Para seniman, budayawan, pemikir, komunitas, generasi muda, dan berbagai elemen masyarakat dapat dipertemukan dalam sebuah ruang dialog. Dari perjumpaan itu, kolaborasi dapat lahir.
Salah satu gagasan yang mengemuka adalah festival kebudayaan Nusantara.
Festival semacam itu tidak sekadar menjadi panggung untuk mempertontonkan tarian, musik atau kesenian daerah. Lebih dari itu, ia dapat menjadi ruang perjumpaan gagasan: tempat kebudayaan dibicarakan, diperdebatkan, diwariskan, sekaligus diciptakan kembali.
“Kita harus berani membawa kebudayaan Indonesia berbicara kepada dunia,” ujar Mbah Coco, cucu tokoh nasional J. Kasimo Hendrowahyono.
Pernyataan itu membawa percakapan ke cakrawala yang lebih luas.
Kebudayaan Indonesia tidak hanya perlu dirawat di dalam negeri. Ia juga dapat menjadi bagian dari cara Indonesia memperkenalkan dirinya kepada dunia. Bukan semata melalui pertunjukan, tetapi melalui nilai, kreativitas, pengetahuan, dan cara masyarakat Indonesia memaknai keberagaman.
Kebudayaan sebagai Investasi Sosial
Di tengah masyarakat yang semakin terhubung secara digital, paradoks justru muncul. Orang dapat berkomunikasi dengan siapa pun di berbagai belahan dunia, tetapi perbedaan di ruang sosial terkadang terasa semakin tajam.
Dalam situasi semacam itu, kebudayaan menawarkan ruang yang lebih cair.
Musik dapat mempertemukan orang-orang yang berbeda keyakinan. Seni dapat melampaui batas administratif dan geografis. Sastra dapat mengajak pembacanya melihat dunia dari pengalaman manusia lain. Tradisi dapat menjadi pintu untuk memahami cara hidup sebuah komunitas.
Kebudayaan, pada akhirnya, bukan hanya tentang apa yang diwariskan dari masa lalu. Ia juga tentang bagaimana sebuah masyarakat membangun masa depannya.
Di situlah kebudayaan dapat dipandang sebagai investasi sosial.
Investasi yang hasilnya mungkin tidak selalu dapat dihitung dalam angka, tetapi terasa dalam kemampuan masyarakat untuk saling mengenal, saling memahami, dan hidup bersama.
Teras Kebinekaan hendak mengambil bagian dalam proses tersebut.
Dari ruang yang sederhana, gagasan tentang Indonesia diharapkan bergerak lebih jauh: menjangkau komunitas, daerah, generasi muda, hingga ruang kebudayaan internasional.
Sebab pembangunan sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan jalan, gedung, jaringan internet, atau pusat-pusat ekonomi. Sebuah bangsa juga membutuhkan jembatan yang menghubungkan manusia dengan manusia lainnya.
Kebudayaan dapat menjadi salah satu jembatan itu.
Dan mungkin, jembatan tersebut memang tidak selalu harus dimulai dari tempat yang megah.
Kadang ia cukup dimulai dari sebuah teras.
Tempat orang datang tanpa banyak sekat, duduk bersama, bertukar cerita, lalu menyadari bahwa di balik perbedaan bahasa, keyakinan, suku, dan tradisi, ada satu rumah besar yang sama: Indonesia.
Berbeda bukan alasan untuk berjarak. Kebudayaan adalah salah satu jalan untuk kembali bertemu.[]
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















