banner 728x250

Bukan Sekadar Bukber, Tokoh Pergerakan Sumsel Bangun “Jembatan” Generasi untuk Rakyat

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id |PALEMBANG — Di bawah temaram lampu resto Pindang Yuk Pen Kampus, Jumat (27/2/2026), sebuah pemandangan hangat tersaji. Tak ada sekat antara yang senior dan yang muda; semua duduk melingkar dalam semangat yang sama: Ramadan sebagai momentum “pulang” ke akar perjuangan.

​Pertemuan bertajuk “Sumsel Bergerak: Solid, Kritis, dan Berintegritas” ini membuktikan bahwa gerakan masyarakat sipil di Sumatera Selatan masih bernapas panjang. Sejumlah tokoh lintas generasi berkumpul, mulai dari Ir. Suparman Roman, Charma Afrianto, Sukma Hidayat, hingga barisan aktivis perempuan seperti Widya Astuti dan Rizdiana.

banner 325x300
Tokoh pergerakan Ir Suparman Roman “Diskusi Aktivis Lintas Generasi “Bersama Generasi muda

Merajut Kembali yang Terpisah

Ketua Pelaksana, Ramogers, SH, mengungkapkan bahwa acara ini adalah upaya melawan fragmentasi. “Ramadan adalah pemersatu. Kita tidak hanya berbagi makanan, tapi berbagi visi. Kita membangun kembali kepercayaan (trust) agar gerakan ini tetap tegak lurus untuk rakyat,” ujarnya dengan nada optimis.

​Senada dengan itu, Dikky Lubay menekankan pentingnya empati sosial di tengah dinamika politik. Ia mengingatkan bahwa aktivis tidak boleh berjalan sendiri-sendiri jika ingin suaranya didengar oleh pembuat kebijakan.

Sinergi: Pijakan Senior, Energi Anak Muda

Ketua Umum LAAGI, Sukma Hidayat, melihat pertemuan ini sebagai estafet kepemimpinan. “Pengalaman senior adalah pijakan kami, sementara energi anak muda adalah mesin penggeraknya. Sinergi ini wajib agar gerakan tetap relevan,” tuturnya.

​Kemandirian juga menjadi poin krusial. Chandra Anugrah dari DPW Kawali Sumsel mewanti-wanti agar gerakan ini tetap independen. “Suara kita harus murni titipan rakyat, bukan pesanan kelompok tertentu,” tegasnya.

Membuka Sekat dengan Pemerintah

Menariknya, diskusi yang dipandu oleh Azuzet Jack dan Ismail Fahmi ini tidak hanya bicara soal kritik, tapi juga solusi. Ir. Suparman Roman menangkap kegelisahan rekan-rekan tentang jarak yang sering tercipta antara aktivis dan pemerintah.

​”Kita ingin merajut kebersamaan. Ada gagasan agar aktivis bisa bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Sumsel melalui kritik konstruktif dan program strategis. Kita ingin sekat komunikasi itu dibuka, agar aktivis menjadi energi positif bagi pembangunan Sumsel yang berkeadilan,” jelas Suparman.

​Sebagai tindak lanjut, forum ini akan segera menyusun konsep kerja sama dan aspirasi yang akan ditawarkan kepada Pemerintah Provinsi Sumsel dalam waktu dekat.

​Meski beberapa tokoh seperti Dr. H. Askolani dan Firdaus Hasbullah berhalangan hadir karena tugas publik, semangat solidaritas tetap terasa kuat hingga acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Ustadz Mursidi.

​”Suara kami mungkin berbeda-beda, tapi tujuan kami satu: Keadilan untuk Sumsel,” tutup Azuzet Jack dengan penuh semangat.

Penulis : Jack

Kontributor: Intimate.co.id sumsel

banner 325x300

Tinggalkan Balasan