banner 728x250

Akademisi UKM Malaysia, Dato Junaidi: Solidaritas ASEAN Adalah Kunci Ketahanan Kawasan Hadapi Bencana Alam

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id | Jakarta – Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) dinilai telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam membangun solidaritas kawasan dalam menghadapi bencana alam yang semakin kompleks dan berskala besar. Hal tersebut disampaikan Assoc. Prof. Dato’ Paduka Dr. Junaidi Abu Bakar, akademisi IKMAS Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), dalam Webinar Solidaritas Warga ASEAN dalam Menjaga Lingkungan Alam, Sabtu (20/12).

Menurut Dato Junaidi, yang juga mantan Menteri Pendidikan Kedubes Malaysia untuk RI menyebut kawasan ASEAN merupakan salah satu wilayah dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia akibat kombinasi faktor geografis, perubahan iklim, dan tekanan pembangunan. Karena itu, respons terhadap bencana tidak lagi dapat dilakukan secara parsial oleh masing-masing negara.

banner 325x300

“Bencana alam di ASEAN bersifat lintas batas. Dampaknya tidak hanya dirasakan satu negara, tetapi mempengaruhi stabilitas sosial, ekonomi, dan lingkungan kawasan secara keseluruhan. Di sinilah solidaritas ASEAN menjadi kunci,” ujar Dato Junaidi.

Ia menekankan bahwa pembentukan berbagai mekanisme regional seperti ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response (AADMER), AHA Centre, ASEAN-ERAT, dan DELSA merupakan bukti konkret evolusi ASEAN dari kerja sama politik menuju pendekatan human security.

“Prinsip One ASEAN, One Response menunjukkan bahwa solidaritas bukan sekadar slogan, tetapi diwujudkan melalui koordinasi, kecepatan, dan standar operasional bersama saat bencana terjadi,” jelasnya.

Dato Junaidi juga menyoroti sejumlah bencana besar yang menjadi pelajaran penting bagi ASEAN, mulai dari tsunami 2004, Topan Nargis di Myanmar, Topan Haiyan dan Rai di Filipina, hingga banjir besar yang melanda Aceh dan Sumatera pada akhir 2025.

“Dari berbagai peristiwa tersebut, koordinasi regional terbukti mampu mempercepat bantuan dan meminimalkan tumpang tindih respons”, tandasnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa solidaritas ASEAN tidak boleh berhenti pada tahap tanggap darurat semata.

“Solidaritas sejati harus mencakup pencegahan dan ketahanan jangka panjang, termasuk perlindungan lingkungan, pengelolaan hutan dan daerah aliran sungai, serta pendidikan kebencanaan bagi masyarakat,” tegasnya.

Dalam konteks itu, Dato Junaidi mendorong peran aktif kalangan akademisi, mahasiswa, dan masyarakat sipil ASEAN sebagai bagian dari ekosistem solidaritas kawasan.

“Ketahanan ASEAN ke depan tidak hanya ditentukan oleh negara, tetapi juga oleh warganya. Solidaritas harus hidup di tingkat komunitas, kampus, dan generasi muda,” pungkasnya.

Penulis: Kelana Peterson

Kontributor: Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan