Intimate.co.id | Jakarta , Pada perdagangan kemarin, bursa saham Wall Street ditutup melemah dipengaruhi oleh saham-saham teknologi. Investor menghadapi ketidakpastian ekonomi yang meningkat dan valuasi saham yang terlalu tinggi. Di antara 11 sektor utama pada indeks S&P 500, sektor barang konsumsi diskresioner mengalami penurunan terbesar setelah turun 2,5%.
Saham-saham teknologi yang berkaitan dengan teknologi kecerdasan buatan melemah dan mempengaruhi penurunan bursa AS. Saham Nvidia Corp dan Tesla Inc memimpin pelemahan di kelompok saham berkapitalisasi besar. Indeks Philadelphia SE Semiconductor turun 2,4%. Seperti yang diketahui, dalam beberapa bulan terakhir saham-saham tersebut menjadi pendorong bursa Wall Street. Hal ini menunjukkan ketergantungan bursa saham AS tersebut terhadap saham-saham teknologi. Gubernur Bank of England mengatakan bahwa kemungkinan adanya bubble yang dipicu oleh AI di pasar, terlepas dari peningkatan produktivitas yang besar yang kemungkinan akan dihasilkan oleh teknologi tersebut.
Pasar menghadapi ketidakpastian ekonomi di tengah penutupan pemerintahan AS. Karena terbatasnya data resmi akibat penutupan pemerintahan AS, investor kini mengandalkan laporan swasta untuk membaca kondisi ekonomi. Perusahaan-perusahaan mengumumkan 153.074 PHK pada Oktober, yaitu hampir tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu, terutama dari sektor teknologi dan pergudangan. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi untuk bulan Oktober sejak 2003. Namun, The Fed mengatakan bahwa inflasi masih menjadi risiko yang lebih besar dibandingkan kondisi tenaga kerja di AS.
Pasar juga mencermati perkembangan hubungan dagang antara AS dan China. China kembali membeli dua kargo yang mencakup 120.000 metrik ton gandum dari AS. Hal ini menandai pembelian pertama sejak Oktober tahun lalu. Langkah ini muncul tidak lama setelah pertemuan antara Trump dan Xi Jinping di Korea Selatan pekan lalu, yang memberi sinyal mencairnya ketegangan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut.
Domestic Highlights
Perkembangan dari pasar saham domestik menunjukkan IHSG pada Kamis (6/11) ditutup menguat 0,22% (dtd) ke posisi 8.337,06 (all time high) dari penutupan sebelumnya pada level 8.318,53. Nilai transaksi pada hari kemarin sebesar Rp18,39 triliun, dengan rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp16,65 triliun. Sementara itu, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp114,96 miliar. Secara akumulatif, investor asing membukukan net sell senilai Rp39,25 triliun sejak awal tahun. Rupiah berdasarkan kurs Bloomberg terapresiasi ke level Rp16.694/USD dari sebelumnya Rp16.705/USD.
Beberapa perkembangan dari dalam negeri lainnya, yaitu:
BI: Harga rumah tumbuh 0,84% (yoy) di kuartal III-2025, melambat dari kuartal sebelumnya. Perlambatan didorong oleh melemahnya penjualan rumah menengah dan besar, meskipun tipe kecil masih positif dengan mayoritas pembelian dilakukan lewat skema KPR.
KSSK: Stabilitas sistem keuangan triwulan III-2025 tetap terjaga. KSSK memastikan koordinasi lintas lembaga diperkuat untuk menjaga stabilitas keuangan di tengah risiko global dan ketidakpastian akibat tarif impor AS.
Menperin: Pertumbuhan manufaktur kuartal III-2025 ditopang oleh lonjakan ekspor dan permintaan domestik. Subsektor logam dasar, kimia, dan mesin tumbuh pesat, menandakan strategi industrialisasi berjalan dengan efektif.
Pemerintah akan memperketat pengawasan penyaluran KUR tanpa agunan diperketat. Wamen UMKM menegaskan bahwa Himbara harus mematuhi kebijakan KUR di bawah Rp100 juta tanpa agunan dan memperluas penyaluran agar tak terpusat di kelompok tertentu.
Danantara: Subsidi Public Service Obligation (PSO) untuk kereta cepat Whoosh sedang dikaji. Sebagian biaya operasional Whoosh akan ditanggung negara karena termasuk layanan publik.
Corporate Highlights
PJHB resmi tercatat di BEI pada 6 November 2025 sebagai perusahaan tercatat ke-24 di tahun ini. Perseroan menargetkan pendapatan naik tiga kali lipat dalam lima tahun, dengan dana IPO dan waran sebesar Rp232,60 miliar yang digunakan untuk membangun tiga kapal baru.
MSCI menambahkan BREN dan BRMS ke dalam Global Standard Index serta mengeluarkan ICBP dan KLBF. Untuk Small Cap Index, enam saham baru masuk termasuk DSNG, ENRG, KLBF, RAJA, dan WIFI.
CBRE menandatangani kontrak senilai Rp4,30 triliun dengan Gunanusa untuk sewa kapal Hai Long 106 selama delapan tahun. Kontrak ini memperkuat posisi dan profitabilitas CBRE di sektor migas.
MBAP membukukan laba senilai USD503,47 ribu, turun 96,90% (yoy) pada September 2025. Penurunan ini disebabkan oleh turunnya pendapatan dan melemahnya laba kotor akibat tekanan harga batu bara.
FIRE mencatatkan rugi sebesar Rp8,33 miliar hingga September 2025, berbalik dari laba tahun sebelumnya.* Penurunan pendapatan 31,60% (yoy) mencerminkan pelemahan kinerja perdagangan.
Jurnalis: Kelana Peterson Kontributor Intimate.co.id
















